Kamis, 25 September 2008

Back to Nature

Obyek foto seorang anak perempuan dan seekor kerbau yang sedang menjulurkan lidahnya ini saya temukan ketika sedang berjalan-jalan di Taman Buah Mekarsari-Jonggol.
Saya bukanlah seorang fotografer handal yang tahu mengenai data-data seperti: averture, lens, speed? focal length? waduh, istilah2 ini pun baru saja saya copy & paste dari foto hasil jepretan seorang teman di website Friendster. Maklum saja, menggeluti hobi photography harus mempunyai modal besar, karena banyak sekali pernak-pernik kamera yang harganya mahal, dan saya masih belum rela untuk membeli peralatan tersebut.
Pada saat diadakan lomba foto di kantor, saya memberanikan diri untuk ikut serta. Kamera digital yang saya miliki pun tidak terlalu canggih, yang penting bisa dipergunakan untuk merekam kegiatan anak Indonesia dalam keseharian, tema lomba foto tersebut.
Ketika saya melakukan hunting foto di taman buah Mekarsari, ternyata baru disadari bahwa pekerjaan seorang fotografer itu sangat melelahkan, karena tidak semua foto yang berhasil saya jepret bagus, baik kualitas gambar maupun obyeknya. Ada foto yang hanya memperlihatkan punggung seorang anak yang sedang bermain layangan, bahkan adapula foto yang hanya memperlihatkan tangan seorang anak yang sedang bermain sepeda. Come on, man? saya sudah mulai putus asa.
Namun, seketika itu pula saya melihat seekor kerbau yang sedang berdiri di dalam kubangan air. Seorang bapak membantu anak perempuannya duduk di atas punggung kerbau tersebut, sebuah pemandangan yang sangat menarik, maka saya pun mulai merekam gambar dengan kamera digital.klik....klik....Si bapak pun menoleh dengan heran dan sedikit curiga, mungkin dia berpikir bahwa saya punya niat jahat. Pak, saya sedang mengumpulkan foto kerbau, boleh ya saya foto anak bapak dan kerbau ini? kata saya. Si bapak hanya menganggukkan kepala dan saya pun kembali merekam gambar...klik...klik...klik...

Dan gambar terbaik yang dapat saya hasilkan adalah foto yang terpasang di atas tulisan ini. Walaupun saya hanyalah seorang fotografer amatiran tapi hasil foto yang memiliki judul back to nature ini mampu dinyatakan sebagai finalis lomba foto di kantor saya. Sepertinya sih, para juri sangat terkesan dengan raut ekspresi si kerbau. Terima kasih bo.........ups.....kebo maksudnya......

Kamis, 11 September 2008

Pria Berkacamata di Pinggir Bekasi

Setiap manusia mempunyai target atau orientasi hidup tertentu. Seperti contohnya saya, sewaktu masih duduk di bangku SMA, saya sangat ingin menjadi seorang mahasiswa, yang menurut pandangan saya, sangat bebas mengatur waktu untuk kuliah ataupun cuci mata ke mall maupun bergosip bersama teman, karena pada saat itu, saya sangat bosan dengan mata pelajaran yang padat dan jadwal latihan Marching Band di sekolah.
Setelah saya berhasil menjadi mahasiswa jurusan teknik sipil di sebuah universitas swasta di bandung, saya pun kembali merasakan kebosanan dalam menjalani padatnya jadwal kuliah dan tugas asistensi dari dosen. Di saat itu saya memiliki mimpi untuk menjadi seorang eks-mud, singkatan keren untuk eksekutif muda atau karyawan perusahaan bonafid. Intinya saya selalu merasa bosan dalam menjalani kehidupan keseharian.BOSAN!.Anda pasti juga pernah merasakannya, iya kan?
Saat ini saya telah memperoleh pekerjaan menjadi seorang karyawati di salah satu perusahaan kimia yang -ehmm- lumayan bonafid. Seharusnya saya tidak merasa bosan, mengingat sulitnya mencari pekerjaan di tengah kacau balaunya keadaaan lapangan pekerjaan di Indonesia. Namun, seperti yang selalu saya alami, saya pun didera perasaan yang sama: Bosan lagi-bosan lagi.Huh!
Perasaan itu selalu menghantui diri saya, sampai suatu ketika, mobil saya melintas di sebuah perumahan mewah di daerah Bekasi. Terlihat di sebelah kiri jalan, duduk dengan manis seorang pria dengan kisaran umur empat puluh tahun, dan menggunakan kacamata hitam. Di pangkuannya tergeletak sebuah tas berwarna merah yang sudah lusuh dan tangan kanannya memegang payung dengan warna putih pudar.
Saya bertanya di dalam hati, sedang apa pria tersebut duduk di pinggir jalan? Hari itu matahari sedang bersinar terik-teriknya. Panas! Karena penasaran, saya sedikit menepikan mobil, untuk melihat apa yang sebenarnya sedang ia tunggu. Terlihat sebuah karton putih dikalungkan di lehernya, dan terbaca: "menerima pijat tuna netra".
Wah, ternyata bapak berkaca mata hitam ini adalah seorang tuna netra. Beliau menunggu di pinggir jalan, siapa tahu ada yang berminat menggunakan jasanya untuk dipijat. Walaupun ia memiliki keterbatasan penglihatan, pria tersebut tidak ingin dikasihani orang namun ia mengunakan kemampuannya memijat untuk mendapatkan uang.
Yang mau saya garis bawahi di sini, ia menunggu....entah sampai kapan....di tengah teriknya matahari.....derasnya hujan.....siapa tahu, ada orang yang mau memakai jasanya. Mungkin pada hari ini dia tidak mendapatkan uang, atau mungkin juga banyak orang yang ingin dipijat olehnya. Dia tidak malu menunggu di pinggir jalan dan pantang menyerah diterpa cuaca panas terik.
Dengan semangat bapak tuna netra ini, saya menjadi malu pada diri sendiri. Tuhan telah memberikan fisik yang tidak kurang suatu apapun kepada saya, kesempatan belajar sampai perguruan tinggi, pekerjaan yang baik, namun kadangkala saya lupa berterima kasih kepadaNYa.
Terima kasih Tuhan, atas semua berkat melimpah yang telah Engkau berikan.
Terima kasih bapak berkaca mata, karena engkau telah membuka mata saya.
May God Bless You.....always........

Rabu, 10 September 2008

Hey Hanny...

Seorang wanita muda cantik jelita masuk ke dalam sebuah klub malam di daerah Kuta, Bali. Ia melirik ke arah jam tangan yang digunakannya dan menghela napas, sudah pukul 10 malam. Asap rokok dan musik hingar bingar menyambutnya di pintu masuk. Wanita dengan rambut panjang berwarna coklat ini memperhatikan keadaan sekelilingnya. Klub malam tersebut sudah penuh sesak, maklum, hari ini adalah malam minggu dan sebagian besar pengunjungnya turis mancanegara. Tangan seseorang menyentuh bahunya, si wanita menoleh dan tersenyum. Ternyata salah satu temannya telah mendapatkan tempat duduk. Si wanita cantik jelita kemudian duduk di samping teman-temannya. "Hey Hanny, mau pesan minuman apa?" salah seorang temannya berteriak di tengah hingar bingar musik. Wanita cantik jelita itu bernama Hanny Cartwright.

Hanny tersenyum dan berkata "Seperti biasa, Jack. Saya pesan minuman soda saja. Thanks ya" Jack mengangguk dan bertanya kepada 3 orang temannya yang lain mengenai minuman yang akan mereka pesan. Tiket masuk ke dalam klub malam sudah termasuk welcome drink. Hanny dan rekan-rekan kantornya baru saja menyelesaikan program training marketing selama 3 hari dan mereka pun sepakat untuk menghabiskan malam terakhir di Bali dengan mengunjungi sebuah klub malam. Pengunjung Bounty, nama klub malam itu, begitu terhanyut di dalam hentakan musik disco. Mereka menggoyangkan badan mengikuti irama musik, sambil membawa serta minuman di tangannya.

Minuman yang mereka pesan telah sampai di meja. Hanny memesan minuman soda sementara Dini, Jack, Rico, dan Steven memesan bir dingin. Dini menjulurkan botol birnya kepada Hanny. "Mau coba tidak? Jauh-jauh datang dari Jakarta ke Bali, masa minumannya standar kantin kantor sih?" Hanny menjulurkan lidahnya kepada Dini dan menggelengkan kepala. Rico mengeluarkan sebungkus rokok Marlboro dari kantong celana jeansnya, mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Sambil menghembuskan asap rokoknya, diam-diam ia memandang wajah Hanny. Selama setahun terakhir, wajah wanita cantik ini selalu hadir di dalam kepalanya. Hidungnya yang mancung, matanya yang berwarna coklat dan senyuman yang manis menawan hati, selalu membuatnya tidak ingin memalingkan wajah. Sebagai wanita yang memiliki ayah berkebangsaan Inggris dan ibu yang memiliki darah Jawa-Cina, tidaklah mengherankan bila tampilan fisiknya pun berbeda dari wanita Indonesia pada umumnya.

Jack mengajak Steven dan Dini untuk turun ke lantai disco. Dini menjulurkan tangannya kepada Hanny. "Minuman gue belum habis, Din. Nanti gue susul deh", teriak Hanny. Dini mengangkat bahunya dan mengikuti kedua temannya turun ke lantai disco. Hanny menoleh kepada Rico." Kamu tidak ikut, Rico?" Sambil menghembuskan asap rokoknya, Rico menatap Hanny dan menggelengkan kepala. Di dalam hati, Hanny merasa tidak nyaman duduk berdua saja dengan Rico. Pria yang berumur dua tahun lebih tua dari dirinya ini, seringkali memperhatikannya dengan diam-diam, dan Hanny merasa canggung dengan tingkah lakunya itu. Apalagi Rico telah menikah dan dikaruniai seorang anak laki-laki.

"Hanny, bagaimana kabar pacar kamu itu? Siapa namanya? Bobby?" ujar Rico memecahkan kesunyian di antara mereka berdua. "Bukan Bobby, nama pacarku: Donny. Dia masih tinggal di Belanda karena thesis S2 Bussiness Management-nya belum selesai. Rencananya lima bulan lagi Donny akan kembali ke Jakarta." Rico sedikit mencibirkan bibirnya. "Dan kamu masih percaya hubungan jarak jauh? Kamu masih percaya kalau pacar kamu itu tetap setia?" Hanny menatap Rico, terlihat kilat kemarahan di matanya. Huh, itu bukan urusan kamu deh! gerutu Hanny di dalam hati. Namun karena terlalu sering manusia di sekitarnya bertanya mengenai hal itu, maka Hanny pun segera dapat mengeluarkan jawaban pamungkasnya "Hmm, aku selalu berpikir positif mengenai Donny. Dan aku akan selalu setia menunggunya. Apalagi kami sudah merencanakan akan melangsungkan pernikahan setelah Donny kembali ke Jakarta."

Rico mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya. Ini sudah batang rokok yang ke-tiga. Berada berdekatan dan berdua saja dengan wanita idamannya, membuatnya merasa gugup. "Hanny, Hanny, kamu ini polos banget sih? Belanda itu kan terkenal dengan komoditi seks bebasnya. Apakah kamu tidak takut kalau selama ini pacar kamu selingkuh?" Hati Hanny mulai terasa panas. Menyebalkan sekali sih manusia yang satu ini. " Rico, cowok aku itu kuliah Business di Maastricht. Dan Maastricht itu adalah kota kecil, sementara yang kamu katakan terkenal dengan komoditi seksnya adalah Amsterdam." Rico terkekeh mendengar penjelasan Hanny " Please Hanny, walaupun kota pelajar, tapi kalau tempat dan suasananya mendukung untuk berselingkuh, bisa juga kan?" Hanny ingin sekali menampar mulut pria berusia 29 tahun ini. "Begini saja deh Rico, sebenarnya hal itu kan bukan urusan kamu. Mau Donny selingkuh atau tidak, untuk apa kamu peduli? Yang penting aku akan tetap setia menunggu dia. Itu yang paling penting. Sorry Rico, aku akan gabung dengan teman-teman." Hanny berdiri dan setengah berlari menuju ke tempat teman-temannya berdiri, mereka telah larut ke dalam hentakan musik.

Rico tertegun dengan jawaban Hanny. Sebenarnya ia merasa kagum pada Hanny. Walaupun wanita itu memiliki wajah yang menawan dan banyak sekali klien perusahaan advertising mereka yang berusaha mendekatinya, namun Hanny tetap tidak bergeming. Ia tetap setia menunggu pacarnya yang sedang belajar di Belanda. Hanny merupakan wanita yang istimewa karena di tengah maraknya kasus perselingkuhan, meningkatnya angka perceraian dan maraknya gubahan lagu yang mengajak orang untuk berselingkuh, ternyata masih ada orang yang memegang teguh prinsip kesetiaan. Oh Hanny, andai saja kita sudah bertemu sejak tiga tahun yang lalu. Rico semakin tenggelam di dalam lamunannya. Andai saja...

(Cerita di dalam tulisan ini fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, lokasi ataupun peristiwa, hal tersebut adalah kebetulan yang tidak disengaja. Cheers!)

Minggu, 24 Agustus 2008

Mengintip Sistem Transportasi di Kota Bangkok

Bangkok, sebagai ibukota negara Thailand yang terkenal dengan sebutan negara seribu pagoda, memiliki situs-situs budaya yang menjadikannya sebagai salah satu tujuan wisata terpopuler di dunia, yaitu: Grand Palace, Wat Arun, Wat Pho, Wat Phra Kew, pasar terapung Damnoen Saduak dan masih banyak lagi. Dalam usaha untuk meningkatkan jumlah kedatangan wisatawan asing dan menurunkan tingkat polusi udara dan kepadatan lalu lintas, pemerintah Thailand telah mengembangkan moda-moda transportasi yang terpadu dan saling mendukung sehingga terbentuk sebuah sistem transportasi yang baik. Saat ini kota Bangkok telah memiliki beberapa moda transportasi unggulan; moda transportasi air berupa perahu mesin melintasi sungai Chao Phraya yang eksotik, moda transportasi Skytrain dengan konstruksi diatas jalan raya, moda transportasi underground/MRT, kereta api antar kota, bis antar kota maupun kendaraan tradisional Thailand beroda tiga yang dikenal dengan sebutan Tuk-tuk.

Skytrain
Di awal tahun 1990, tingkat kemacetan lalu lintas di kota Bangkok digolongkan ke dalam kondisi sangat parah, sehingga terbuka wacana untuk membangun konstruksi moda transportasi yang dapat mengurangi tingkat kepadatan jalan raya. Pemerintah Thailand mulai merencanakan sebuah moda transportasi Bangkok Mass Transit System (BTS) atau Skytrain yang diadopsi dari Vancouver SkyTrain. Namun karena adanya interfensi politik dari pemerintah Thailand pada tahun 1992, rencana pengembangan moda transportasi ini sempat dihentikan. Pemerintah Thailand pada waktu itu lebih menaruh perhatian pada pengembangan konstruksi jalan raya dan highways. Dengan adanya penambahan dan pelebaran lajur jalan raya meningkatkan minat penduduk kota untuk membeli kendaraan pribadi, sehingga kondisi kepadatan lalu lintas di kota Bangkok menjadi semakin tidak terkendali.

Dengan kondisi kemacetan lalu lintas yang semakin parah, pemerintah Thailand membuka kembali wacana rencana pembangunan BTS. Dengan dilakukan beberapa perubahan rute perjalanan dan penggunaan teknologi kereta yang canggih dari Siemens, pembangunan moda transportasi ini pada akhirnya dapat diselesaikan pada tahun 1999, dan diresmikan oleh anggota kerajaan Thailand putri HRH Maha Chakri Sirindhorn. Moda transportasi ini memiliki 2 jalur yaitu BTS Sky train-jalur hijau tua: jalur Silom (Saphan Taksin- National Stadium) dan jalur hijau muda: jalur Sukhumvit (On-nut - Mochit). Di stasiun Siam Central Interchange, penumpang dapat berpindah dari jalur kereta hijau muda ke jalur kereta warna hijau tua. Untuk memudahkan perpindahan calon penumpang, setiap stasiun Skytrain dilengkapi anak tangga maupun escalator bahkan terdapat ramp yang dapat digunakan oleh calon penumpang yang menggunakan kursi roda. Dengan jumlah stasiun 23 buah, BTS Skytrain mampu memindahkan lebih dari 500.000 penumpang per hari. Angka tersebut diharapkan dapat meningkat dengan dikeluarkannya kartu smart card yang dapat digunakan baik untuk moda transportasi BTS maupun Mass Rapid Transfer (MRT), kartu tersebut dikeluarkan di tahun 2007.

Mass Rapid Transfer/MRT
Dengan keberhasilan moda transportasi Skytrain yang dapat memindahkan ratusan ribu penumpang per hari, pemerintah Thailand kemudian mengembangkan moda transportasi bawah tanah atau moda transportasi yang biasa dikenal dengan sebutan Mass Rapid Transit/MRT (mampu memindahkan penumpang dalam jumlah besar). Pembangunan konstruksi MRT yang berada 30 m dibawah tanah tersebut dimulai pada tahun 1996 dan sempat mengalami beberapa rintangan yang cukup berarti antara lain krisis ekonomi yang menghantam wilayah Asia Tenggara pada tahun 1997 dan sulitnya pembangunan konstruksi bawah tanah di kota Bangkok yang berada di daerah rawa-rawa.

Pembangunan Bangkok Metro dengan jalur ’Blue Line’ dapat diselesaikan pada tahun 2004 dan diresmikan oleh Raja Bhumibol Adulyadej. Jalur Blue Line membentang sepanjang 21 kilometer dari daerah Bang Sue ke Hua Lamphong (stasiun kereta api tujuan luar kota) dengan total 18 stasiun pemberhentian. Saat musim hujan, sering terjadi banjir di dalam kota Bangkok, sehingga untuk menghindari tergenangnya jalan masuk stasiun MRT dari banjir, elevasi pintu masuk MRT dibangun + 50 cm di atas permukaan tanah dan diperlengkapi dengan peralatan yang dapat mencegah air banjir masuk ke dalam stasiun. Sebuah pintu kaca tembus pandang yang akan terbuka secara otomatis saat kereta MRT berhenti di stasiun menjadi pembatas antara platform stasiun dengan lajur track kereta MRT. Pintu kaca tersebut untuk menghindari terjatuhnya calon penumpang ke dalam lajur kereta ataupun untuk menghindari tindakan percobaan bunuh diri.


Sistem Transportasi yang terpadu
Sebuah sistem transportasi diciptakan untuk mempermudah perpindahan manusia dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan beberapa moda transportasi. Pemerintah Thailand telah merencanakan sebuah sistem transportasi di kota Bangkok yang patut mendapat pujian, sebab penduduk kota tersebut tidak mengalami kesulitan pada saat harus berpindah dari suatu moda transportasi ke moda transportasi lainnya. Salah satu contohnya terdapat 2 buah stasiun interchange yang dapat mempermudah penumpang untuk berpindah dari MRT ke Skytrain di stasiun MRT Sukhumvit dan Silom. Kemudian apabila tujuan salah satu penumpang adalah melintasi sungai Chao Phraya dengan naik perahu mesin yang berangkat dari pier/dermaga Saphan Taksin, maka penumpang tersebut dapat menggunakan Skytrain jalur Silom dan berhenti di stasiun Saphan Taksin, dan setelah menuruni beberapa anak tangga, dermaga perahu dengan mudah terlihat dan ditemukan.

Sistem tranportasi yang baik ini pun berlaku untuk tujuan perjalanan ke luar kota Bangkok, sebab stasiun kereta api Hua Lamphang dapat diakses melalui MRT dan stasiun bis Ekamai dapat diakses melalui Skytrain. Hal ini dapat mempermudah perjalanan para wisatawan asing yang ingin bepergian ke situs-situs budaya yang berada di luar kota Bangkok seperti kota tua Ayutthaya maupun pantai Pattaya. Selain itu keseriusan pemerintah kota Bangkok untuk meningkatkan jumlah wisatawan asing pun terlihat dari kemudahan mendapatkan peta kota Bangkok dan peta stasiun Skytrain maupun MRT di airport Suvarnabhumi yang dibagikan secara gratis. Sehingga wisatawan yang datang dengan dana terbatas dapat berjalan-jalan mengelilingi kota Bangkok menggunakan moda tranportasi umum tersebut.

Melihat kemajuan pengelolaan sistem transportasi ibukota Thailand sebagai negara sesama anggota ASEAN tersebut, sudah saatnya pemerintah kota Jakarta sebagai ibukota Indonesia, mempertimbangkan untuk menciptakan sebuah sistem transportasi yang terpadu pula. Perbedaan karakteristik kota Bangkok dengan kota Jakarta tidak berbeda dalam hal seringnya terjadi banjir maupun tingginya potensi kemacetan lalu lintas, namun kota Bangkok secara perlahan namun pasti mampu melepaskan diri dari predikat kota dengan polusi dan kemacetan terparah ketiga di dunia. Kapankah penduduk kota Jakarta dapat menunjukkan kebanggaannya memiliki sistem transportasi yang terkoneksi dan terpadu dengan baik di dalam kota? Tidak ada kata terlambat bagi pemerintah kota Jakarta untuk mulai duduk bersama merencanakan dan menciptakan sistem transportasi yang dapat mengurangi kemacetan lalu lintas. Apabila para pejabat pemerintahan kota Jakarta masih sulit untuk dapat duduk bersama merencanakan sebuah sistem transportasi terpadu, maka tidak ada salahnya untuk tetap mengintip sistem transportasi kota Bangkok, sehingga inspirasi untuk menciptakan sistem transportasi kota yang baik tetap berkobar dalam ingatan kita dan tetap berkhayal suatu saat nanti kota Jakarta akan bebas dari kemacetan lalu lintas. Aminnnn.


phendrani
Alumnus Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil
Universitas Katolik Parahyangan-Bandung
*saat ini menetap di kota Jakarta yang macet parah*

Selasa, 12 Agustus 2008

Bertemu dengan Nemo


Tanah Minahasa memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan untuk menarik banyak wisatawan asing datang berkunjung. Salah satunya adalah taman laut Bunaken yang terletak di sebelah utara kota Menado. Bagi mereka yang memiliki hobi menyelam atau snorkeling, pastinya nama Bunaken tidak asing lagi, sebab taman laut ini termasuk dalam top 10 tempat menyelam terpopuler di dunia.

Pada saat ada kesempatan berkunjung ke sana, tentulah tidak lengkap bila tidak mencoba terjun ke dalam laut untuk mengagumi terumbu karang dari dekat. Saya dan teman-teman memberanikan diri untuk mencoba snorkeling dengan menyewa peralatan snorkel dan pelampung berwarna orange terang. Tadinya saya sempat ketar-ketir juga, sebab walaupun bisa berenang dan telah memakai pelampung, saya sempat merasa takut dengan kedalaman laut di bawah perahu. Perahu yang kami tumpangi berhenti di tengah laut, dan mulailah teman-teman saya yang mayoritas berjenis kelamin wanita menceburkan diri ke dalam air laut berwarna biru gelap.

Pada saat saya telah menggabungkan diri berenang dalam air laut, saya pun memakai kacamata snorkel dan mulai terpesona dengan keindahan terumbu karang yang tepat berada di bawah kaki. Setelah dapat menyesuaikan diri dengan peralatan snorkel, saya pun memisahkan diri dari rombongan teman seperjuangan dan berenang lebih ke tengah laut. Di sana terlihat seekor ikan berwarna orange dan garis putih di sekitar tubuhnya. Ikan ini mengingatkan saya pada tokoh utama film animasi Walt Disney berjudul Finding Nemo. Hi Nemo! kata saya dalam hati sambil tetap memperhatikan ikan tersebut berenang mendekati terumbu karang.

Pengalaman berenang di tengah laut dan melihat terumbu karang yang sangat indah, merupakan hal yang tidak ingin dilupakan. Semoga kelestarian taman nasional Bunaken tetap dapat terjaga sehingga semakin banyak orang dapat mengagumi salah satu keindahan alam laut Indonesia.Amin.

Rabu, 06 Agustus 2008

Bermain ATV

Setiap tahun, kantor saya yang bergerak di bidang kimia konstruksi mengadakan acara sales conference di luar kota Jakarta. Tujuannya tentu saja untuk memberikan waktu bersantai bagi para anggota sales yang telah bekerja keras selama satu tahun sesuai dengan slogan: work hard, play hard.
Di awal tahun 2008, kami mengadakan sales conference di Bali. Setelah rangkaian acara presentasi hasil pencapaian tim sales dan beberapa hal yang penting untuk dibahas, kami memiliki satu hari untuk bersantai. Kali ini panitia acara memutuskan bahwa kami akan bermain ATV (All Terrain Vehicles) di Tabanan.

Sebelumnya saya tidak pernah mengetahui benda apakah yang dimaksud dengan ATV tersebut dan baru pertama kali ini ikut offroad dengan ATV. Setelah rombongan berjumlah 30 orang sampai di Tabanan, kami pun dibagi menjadi 2 grup yaitu: tim Tom dan tim Jerry. Menurut undian koin uang yang dilemparkan, ternyata tim Tom mendapat giliran pertama bermain ATV, sementara saya yang ikut dalam tim Jerry, harus menunggu giliran, namun panitia telah menyiapkan sebuah acara team building yang lumayan seru juga.

Setelah 1,5 jam menunggu, akhirnya tim Tom selesai bermain ATV. Mereka menghampiri kami dengan pakaian yang tampak kotor terkena lumpur berwarna coklat dan sepatu yang sudah tidak terlihat warna aslinya karena penuh dengan lumpur.
Ketika tim Jerry tengah bersiap-siap masuk ke arena offroad, salah satu anggota tim menemukan lemari penyimpanan sepatu boots yang tidak dilihat oleh tim Tom, sehingga kami pun dapat berganti sepatu. Kejadian ini membuat iri beberapa anggota tim Tom, sehingga pada saat tim Jerry sedang bermain ATV, mereka mengambil lumpur dan mengoleskannya pada sepatu-sepatu anggota tim Jerry. Kisah ini seperti cerita di film kartun Tom and Jerry bukan? Tapi untunglah sepatu saya selamat dari lumpur karena tersimpan dengan rapi di dalam tas ransel. Gotcha!

Selasa, 05 Agustus 2008

Keindahan Gunung Lokon, Minahasa


Komunitas sahabat museum mengadakan perjalanan ke tanah minahasa pada bulan Mei 2008. Tujuan perjalanan adalah mengunjungi Bunaken, Tondano dan Tomohon. Pada waktu saya mendaftarkan diri mengikuti kegiatan ini, saya tidak mengetahui obyek wisata yang menarik di kota Tomohon. Kami tiba di kota tersebut pada malam hari tanggal 18 Mei 2008, dan menginap di Lokon Boutique Resort. Ternyata obyek wisata yang paling terkenal di Tomohon terletak di dekat hotel. Pada malam itu saya dapat melihat siluet sebuah gunung di sisi kanan hotel dan siluet gunung tersebut menjadi sangat indah pada saat matahari pagi bersinar.
Maka tidak mengherankan bila kami pun sibuk berfoto dengan latar belakang gunung Lokon. Dengan melihat foto yang terpasang di atas tulisan ini, coba tebak, saya berdiri di sebelah mana ya?