Rabu, 16 Juni 2010

Jakarta dan Langit Biru


Pemandangan menarik yang terekam di dalam foto di atas ini diambil pada hari Minggu, dimana tingkat polusi udara berada pada titik terendah. Dapat dikatakan menarik, sebab sangat jarang lokasi patung Selamat Datang bunderan HI ini sepi dari lalu lalang kendaraan bermotor. Pemerintah kota Jakarta telah mengambil tindakan positif untuk mengurangi kadar emisi gas buang kendaraan bermotor dengan mengadakan program Hari Bebas Kendaraan Bermotor yang diadakan sekali setiap hari Minggu terakhir pada tiap bulannya. Program "Car Free Day" telah memberikan manfaat positif yang dapat dirasakan oleh penduduk Jakarta seperti: dapat melakukan kegiatan bersepeda maupun berolahraga di jalan-jalan protokol Jakarta dan masyarakat dapat menikmati pemandangan langit biru di atas gedung pencakar langit. Penduduk kota Jakarta kemudian memberikan respon positif pada program tersebut, sebab pada hari pelaksanaan Car Fee Day mereka dapat mengajak anggota keluarga untuk melakukan kegiatan olah raga bersama sambil berwisata. Respon positif inilah yang membuat pemerintah kota DKI Jakarta memiliki rencana menambah kuantitas pengadaan program ini menjadi dua kali dalam sebulan.

Sebagai penduduk kota Jakarta, saya pun merasa sangat terkejut ketika menemukan fakta bahwa langit biru dapat menghiasi langit Jakarta. Bagaimana tidak? sebagai ibukota negara yang menempati urutan ke-tiga terpolusi sedunia setelah Mexico City dan Bangkok, langit kota Jakarta yang sehari-harinya dipenuhi oleh asap kendaraan dari knalpot bajaj, sepeda motor, mobil pribadi maupun bis kopaja, namun pada hari Minggu Car Free Day tersebut, langit biru dapat terlihat dengan jelas. Seluruh foto yang terpasang di tulisan ini diambil dengan kamera sambil mengayuh sepeda lipat ungu metalik. Pemerintah kota DKI Jakarta telah membuat target untuk mendapatkan langit biru dengan tingkat polutan yang rendah, dan menurut saya program ini cukup berhasil menciptakan langit biru walaupun hanya dapat saya nikmati pada hari Minggu saja.......yup, lebih baik dapat menikmati selama satu hari daripada tidak sama sekali bukan?


Kegiatan bersepeda selain membuat tubuh kita menjadi lebih sehat, ternyata mampu mengurangi kadar emisi gas buang kendaraan bermotor dan membuat langit Jakarta berwarna biru. Ayo.....kayuhlah pedal sepeda Anda, sehingga tagline Jakarta dan Langit Biru tidak hanya menjadi impian saja......

Senin, 31 Mei 2010

Belajar Mencintai Alam di Kampoeng Awan

Kawasan Mega Mendung, sebuah kawasan dengan udara dingin menyejukkan dan pemandangan alam yang indah, terletak di daerah Puncak, Jawa Barat. Daerah ini merupakan salah satu tempat tujuan wisata favorit untuk melepaskan kepenatan rutinitas sehari-hari bagi penduduk kota Jakarta. Namun tidak banyak orang mengetahui bahwa di kawasan ini terdapat sebuah area perkemahan yang menawarkan kegiatan liburan menarik penuh makna dan tak terlupakan. Kampoeng Awan, nama area perkemahan tersebut, terletak di desa Sirnagalih Cipendawa dan nama unik tersebut diambil bukan tanpa makna, sebab dengan lokasi yang terletak di atas bukit, seringkali kabut tebal turun menutupi sebagian besar area perkemahan sehingga pada saat itu pengunjung seperti berada di tengah awan dan seakan-akan dapat menyentuhnya.
Perkemahan dengan konsep pendidikan dan petualangan ini selain menawarkan pengalaman berkemah di alam terbuka, memberikan beberapa alternatif kegiatan menarik yang dapat dilakukan. Salah satu contohnya kegiatan untuk memulai pagi hari dengan berjalan menembus kawasan hutan pinus yang eksotis untuk menikmati pemandangan matahari terbit. Setelah matahari bergerak semakin tinggi, berkunjung ke tempat pembibitan jamur tiram merupakan kegiatan menarik berikutnya yang dapat dilakukan di sekitar perkemahan. Bangunan tempat pembibitan jamur tiram ini terletak tidak jauh dari perkemahan, dapat ditempuh berjalan kaki dengan jarak kurang lebih 100 m. Bangunan tersebut penuh sesak dengan rak-rak tempat meletakkan batangan kayu yang terbungkus plastik. Menurut penjelasan Pak Iboh, salah satu pekerja, media terbaik untuk mengembangbiakkan jamur tiram adalah kayu dan sebuah kantong bibit kayu mampu menghasilkan jamur tiram siap panen seberat 0.5 kg setelah periode satu bulan. Pada saat panen para pekerja akan memasarkan hasil jamur tiram tersebut ke pasar Gadok dengan harga jual per kg Rp.10.000. Sebagai informasi tambahan, sebuah kantong bibit mampu menghasilkan jamur tiram secara terus-menerus selama 3 bulan dan di dalam bangunan tersebut terdapat kurang lebih 40 ribu kantong bibit.



Setelah mendapatkan informasi menarik seputar pembibitan jamur tiram, salah satu tempat menarik lainnya yang patut dikunjungi adalah lokasi reservasi hutan dan pengembangan tanaman organik yang dilakukan oleh Kelompok Tani Mega Mendung. Tindakan penghijauan pertama kali dilakukan pada tahun 2001 dengan kondisi area sangat parah, dimana tidak ada kehadiran cacing di dalam tanah dan ph tanah mencapai angka 2,5. Kelompok Tani Mega Mendung melakukan penghijauan menggunakan tanaman keras dan tanaman organik dengan sistem tumpang sari. Dengan hasil kerja keras mereka selama 5 tahun, diperoleh hasil panen tanaman organik yang berlimpah dan ditemukan sumber mata air baru disebabkan oleh kehadiran akar tanaman yang dapat menyimpan air hujan, dengan total luas area menjadi 12 hektar. Tindakan reservasi ini patut diberikan apresiasi mendalam karena penghijauan ini dilakukan di daerah Mega Mendung dengan angka pembangunan villa dan rumah tinggal yang selalu meningkat dari tahun ke tahun.



Selain dapat menimba banyak informasi menarik mengenai alam dan penghijaunnya, terdapat lokasi wisata alam yang indah di sekitar Mega Mendung, sebuah air terjun bernama curug panjang. Air terjun ini selalu dapat menarik perhatian sejumlah fotografer untuk mengabadikannya dan merupakan salah satu lokasi favorit keluarga untuk menghabiskan akhir pekan dengan bermain air. Kawasan lokasi wisata alam ini pun semakin bermakna bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya karena mampu menggerakkan perekonomian daerah dan membuka lapangan pekerjaan karena banyaknya wisatawan dari daerah lain yang berkunjung ke sini.
Dengan adanya area perkemahan di kawasan Mega Mendung dengan konsep pendidikan dan petualangan, kita dapat belajar untuk mencintai alam dan turut serta berperan aktif menjaga kelestarian alam demi kesejahteraan anak cucu angkatan berikutnya. Sehingga selain dapat menikmati akhir pekan di tengah keindahan alam yang mengangumkan dan udara bersih yang menyehatkan pernapasan, kegiatan berkemah ini mampu memberikan nilai tambah positif dengan banyaknya informasi menarik yang dapat membangun kesadaran kita untuk lebih mencintai alam.

Minggu, 25 April 2010

Curahan Hati Fotografer Amatiran

nekad adalah nama tengahku, aku seorang fotografer amatiran
sebuah spanduk iklan kompetisi foto mengganggu mataku
nekad adalah nama tengahku, aku pun mendaftar acara itu

saat hari kompetisi tiba, aku terlambat bangun terlambat tiba
kategori kompetisi foto terdiri dari dua: landscape & housing
nekad adalah nama tengahku, aku pun mengikuti keduanya

pukul sepuluh, acara hunting foto dimulai
pukul setengah satu, acara hunting foto selesai
pukul tiga, aku menguap mengantuk namun juri masih berembuk
pukul empat, aku mengambil tas hendak pulang saja
pukul empat lebih lima menit, aku berpapasan dengan juri
pukul empat lebih tujuh menit, aku kembali duduk manis

juri kompetisi menampilkan sepuluh foto finalis seluruh kategori
jantungku seakan berhenti berdetak, foto hasil karyaku ada di sana
saat pengumuman pemenang kategori housing, namaku disebut sebagai juara pertama
nekad adalah nama tengahku, aku tidak percaya pada pendengaranku

saat harus naik ke atas panggung, ternyata aku menjadi satu-satunya pemenang wanita
nekad adalah nama tengahku, dan aku bersyukur akan kenekadanku.....




Majalah Digital Camera Indonesia volume 12/2010, hal: 32-33
Foto hasil karya phendrani

Minggu, 11 April 2010

Keindahan Flores

Pulau Flores yang terletak di wilayah Indonesia bagian tengah memiliki kekayaan alam yang menawan hati, seperti: hamparan padi di daerah Lembor, peninggalan jaman Megalitikum di kampung adat Bena, danau tiga warna Kelimutu dan hasil perikanan yang melimpah di kota Larantuka. Sebuah anugerah Tuhan yang harus disyukuri bahwa saya mendapat kesempatan berkunjung ke pulau indah yang didiami penduduk yang ramah ini.
Berikut adalah beberapa foto yang merekam keindahan pulau bernama: FLORES.....

Di antara perbukitan dan hamparan padi @Lembor....


Anak Ingusan


Kampung Adat Bena, Kabupaten Ngada


Wanita Kampung Adat Bena


Danau Tiga Warna, Kelimutu


Situs bekas rumah pengasingan Bung Karno di kota Ende


Patung Bunda Maria di atas bukit, menghadap kota Maumere

Sabtu, 10 April 2010

Semana Santa

Sebuah surat elektronik dengan status belum terbaca tersimpan di dalam inbox, setelah saya buka ternyata email tersebut dikirim oleh seorang sahabat yang saat ini bermukim di USA. Isi surat elektronik itu adalah ajakan untuk mengikuti acara Semana Santa di pulau Flores, dan di akhir suratnya sahabat saya itu pun menambahkan: kalau tidak tahu arti Semana Santa, googling saja..... Wah, sepertinya dia bisa menebak bahwa saya tidak punya bayangan sama sekali mengenai arti Semana Santa. Dan saya pun patut mengucapkan terima kasih kepada Oom google, sebab lewat website-nya saya menemukan informasi mengenai acara tersebut. Semana Santa merupakan rangkaian acara pekan suci Paskah yang dilaksanakan di kota Larantuka, sebuah acara yang diadopsi dari budaya bangsa Portugis yang pernah menjajah pulau Flores. Tahun 2010 merupakan tahun istimewa sebab acara tersebut memasuki tahun penyelenggaraan ke-500.

Surat elektronik tersebut dikirimkan di akhir bulan Februari dan Semana Santa akan dilaksanakan pada awal bulan April. Sebagai seorang sahabat yang baik, jelas saya tidak bisa menolak permintaan mengikuti prosesi unik tersebut, apalagi sahabat saya itu akan datang jauh-jauh dari USA menuju Pulau Flores, sementara saya yang berada di Jakarta mengapa harus berpikir ribuan kali? Kemudian bagaimana kelanjutan rencana petualangan kami? Jelas sekali: gedebak-gedebruk....tiket pesawat dalam antrian, jawaban staff hotel-hotel di Larantuka: kamar kosong? mimpi kali ye... (akibat konfirmasi kedatangan 10.000 orang peziarah yang akan ikut acara)...dan yang paling penting saya belum mendapatkan ijin kabur dari kantor alias permit cuti dari bos....oh lala....Namun hal tersebut tidak menyulutkan semangat kami, setelah satu persatu masalah tersebut dapat kami selesaikan, dan mempersiapkan diri dengan meminum pil anti malaria seminggu sebelum keberangkatan, akhirnya kami dapat berangkat ke pulau Flores. Rombongan kami terdiri dari saya beserta Kaka dan Sule, kami bertiga telah bersahabat sejak kuliah, dan tante Christine, ibunda dari Kaka yang menurut saya memiliki stamina mengagumkan karena di usia pertengahan 50 bersedia ikut dalam perjalanan ini.

Perjalanan dimulai dari kota Labuan bajo yang terletak di Flores bagian paling barat, dengan mobil sewaan beserta supir menuju kota Larantuka yang terletak di Flores bagian paling timur. Perjalanan kami pun ditempuh dalam 5 hari dengan berhenti untuk menginap di kota Ruteng, Bajawa, Moni, dan Maumere. Kami sampai di kota Larantuka pada hari Rabu, dan karena kamar hotel penuh, kami menghabiskan satu malam di biara susteran Congregatio Imitationis Jesu (Serikat Pengikut Yesus). Akses masuk kota Larantuka ditutup pada hari Kamis pekan suci, untuk menjaga agar acara pekan suci tersebut berjalan dengan hikmad tanpa gangguan, sementara di dalam kota Larantuka, telah berkumpul sedikitnya 10.000 orang yang datang untuk melihat dan mengikuti acara tersebut.
Pekan suci menyambut Paskah di Larantuka dimulai dengan Rabu Trewa , acara tersebut berisi lamentasi atau nyanyian ratapan yang diadakan di gereja. Keesokan harinya, diadakan penghormatan kepada patung Tuan Berdiri (simbol Yesus Kristus yang disiksa) dan Tuan Tido (simbol Yesus Kristus yang terbaring di peti mati setelah disalib).

Penghormatan simbol-simbol duka cita ini dilakukan di pulau Adonara (berjarak 10 menit dari kota Larantuka dengan perahu mesin). Pada malam harinya diadakan misa Kamis Putih untuk memperingati perjamuan terakhir Yesus Kristus dengan para muridnya.

Hari Jumat Agung, merupakan hari tersibuk dan melelahkan bagi para peziarah, sebab beberapa acara penting akan diadakan pada hari ini. Di pagi hari, diadakan penghormatan kepada patung Tuan Ma (simbol Bunda Maria yang berduka) dan Tuan Ana (simbol Yesus Kristus yang mati disalib) diadakan di gereja Tuan Ma dan gereja Tuan Ana.

Gereja Tuan Ana


Penghormatan kepada Tuan Ana


Gereja Tuan Ma


Penghormatan kepada Tuan Ma

Kemudian pada siang harinya diadakan prosesi menghantar Tuan Menino (simbol kanak-kanak Yesus) melalui perahu yang digerakkan dengan menggunakan kayuh oleh 3 orang laki-laki berpakaian hitam, diikuti oleh puluhan perahu mesin baik yang besar maupun kecil yang disesaki oleh para peziarah.




Terus terang, hati saya tersentuh saat melihat prosesi ini, sebab begitu besar semangat para pendayung perahu yang membawa Tuan Menino di tengah laut melawan ombak.

Di sore hari pada hari Jumat tersebut, diadakan misa Jumat Agung bertempat di Katedral Reinha Rosari dan setelah itu diadakan lamentasi untuk memulai prosesi menghantar Tuan Ma dan Tuan Ana mengelilingi kota Larantuka. Prosesi tersebut dimulai pada pukul 21.00 s/d 2.00 Waktu Indonesia Bagian Tengah. Suasana khidmad meliputi hati para peziarah saat prosesi perarakan tersebut berlangsung, lilin-lilin diletakan di sekeliling jalan perarakan dan penduduk yang tinggal di sekitar lokasi perarakan turut ambil bagian dalam prosesi ini dengan membuka semua pintu serta jendela rumah dan meletakkan lukisan Yesus Kristus maupun salib di halaman depan rumah.


Acara Semana Santa masih berlangsung, pada saat saya dan teman-teman meninggalkan Larantuka pada pukul 00.30 pagi hari, sebab kami harus berangkat menuju kota Maumere yang akan ditempuh dalam waktu 3 jam, untuk mengejar pesawat dengan jadwal take off pada pukul 07.15, pesawat tersebut akan membawa kami kembali ke pulau Jawa. Walaupun tidak mengikuti upacara ini sampai akhir, namun saya sangat terkesan dengan proses inkulturasi yang terjadi di Larantuka. Acara Semana Santa merupakan proses inkulturasi budaya Portugis dengan budaya asli orang Nagi (sebutan penduduk asli kota Larantuka) dan tradisi gereja Katolik. Inkulturasi ini membuat kota Larantuka menjadi istimewa, walaupun hanya sekali dalam setahun dipenuhi oleh para peziarah.

Rabu, 03 Maret 2010

Tanpa Ide

Sekali lagi, saya mendapati diri sedang termenung di depan layar komputer, tanpa ide di kepala, tanpa peristiwa menarik yang dapat diceritakan. Sebenarnya saya tidak mempunyai keharusan untuk menulis di dalam blog ini, sebab saya bukan seorang penulis buku apalagi wartawan perang, saya hanyalah seorang manusia biasa. Kegiatan menulis, hmm, mungkin lebih tepat disebut kegiatan mengetik di komputer, saya mulai sejak tahun 2005. Sehingga apabila ada yang berpendapat bahwa saya mampu membuat tulisan sejak masa kanak-kanak, wah pendapat itu sangat salah, salah, salah, sebab di jaman dahulu kala, apabila guru Bahasa Indonesia memberikan tugas menulis puisi, keringat dingin akan segera memenuhi jidat saya yang lebar dan puisi pada akhirnya dapat diselesaikan dengan hiasan coretan di seantero kertas, urek-urek orang Jawa bilang, sungguh menyiksa.

Namun semenjak tahun 2005, keengganan saya dalam hal tulis-menulis ini berubah total, saat dengan tiba-tiba saya sadar mempunyai beberapa cerita menarik yang pernah dialami sendiri ataupun memperoleh inspirasi menarik dari aktivitas membaca koran di pagi hari sambil ditemani segelas kopi cappuccino, yup, style bapak-bapak begitu deh. Inspirasi dan pengalaman menarik tersebut seringkali ingin saya ceritakan kepada orang-orang yang ada disekitar, namun kadangkala tanggapan mereka tidak sesuai dengan harapan saya, seperti: ketika saya sangat bersemangat bercerita mengenai sebuah peristiwa lucu, ternyata orang yang sedang saya ajak bicara tiba-tiba menangis. Setelah saya amati lebih seksama, ternyata orang tersebut sedang mengiris bawang bombay dan tidak kuasa menahan airmata mengalir turun ke pipinya...hmm memang sih, saat itu dapur merupakan latar lokasi saya bercerita. Di lain waktu, saat saya sedang bercerita mengenai sebuah peristiwa sedih, teman yang sedang mendengarkan cerita tersebut tiba-tiba berteriak senang, sebab ia melihat aktor film pujaannya berjalan masuk ke dalam area food court tak jauh dari meja kami dan seketika itu ia tidak mempedulikan saya lagi, apalagi memperhatikan inti cerita saya. Huhuhuhu, sedih! Nah, untuk menghindari kesedihan akibat tidak dihiraukan dan menghadapi tanggapan para pendengar yang tidak sesuai dengan harapan saya, maka terbersitlah keinginan untuk membuat kumpulan tulisan cerita menarik tersebut ke dalam sebuah blog.

Pertama kali, blog yang saya buat berjudul Funky, dan lokasi blog tersebut masih bersifat lokal, alias hanya teman-teman terdekat saja yang dapat membacanya. Dan semenjak tahun 2008, saya terinspirasi oleh mantan pacar, hmm, sebenarnya agak berat juga mengakui hal ini, namun baiklah saya harus mengakui sumber inspirasi tersebut. Yup, saya terinspirasi untuk membuat blog dalam format global, alias semua orang dapat klik membuka dan membaca cerita saya. Sehingga dalam hal memilih judul blog ini, saya bersikap hati-hati, sebab judul harus singkat, padat makna dan menarik perhatian orang. Rasa frustasi sempat menghampiri sebab tidak juga menemukan nama yang cocok. Namun, di saat saya sedang melihat tumpukan VCD milik keponakan tercinta, kedua mata terbentur pada judul film animasi anak-anak yaitu: Finding Nemo. Film ini dapat dikatakan sebagai sebuah film yang menarik karena memiliki pesan moral yang baik, menyentuh hati dan gambar-gambarnya pun indah, sehingga saya memutuskan untuk menggunakan kata Finding, sepotong kata dari judul film tersebut dan digabungkan dengan kata Story sehingga terbentuklah nama blog yang saya pergunakan sampai saat ini: FindingStory.

Dengan blog ini, saya mengumpulkan dan menulis cerita, mulai dari cerita yang sangat konyol sampai cerita serius, mulai dari peristiwa yang terjadi sungguhan sampai peristiwa yang saya karang sendiri, namanya juga blog ini milik saya, maka pemiliknya punya hak dan kebebasan untuk menulis cerita mengenai apapun, bukan begitu bukan? Namun, walaupun begitu, saya selalu berharap pembaca blog ini dapat terhibur minimal sebuah senyum simpul tercetak di wajah. Dan salah satu harapan, mudah-mudahan saya selalu dapat menemukan cerita yang menarik untuk dapat dibagikan kepada Anda. Dengan kecanggihan teknologi internet, blog ini dapat diakses di manapun Anda berada, di dapur saat sedang memotong bawang bombay? di cafe sambil menyeruput secangkir kopi panas? di ruang tunggu dokter sambil tangan Anda memegangi pipi yang bengkak akibat sakit gigi? Harapan saya, semoga FindingStory dapat menghibur hati Anda. Bagaimana menurut Anda?...............halo? hmm...tidak ada jawaban. Seringkali muncul pertanyaan dalam hati, kira-kira blog ini ada yang baca atau tidak sih? Huhuhuhu, sedih! Anyways, walaupun tanpa ide, saya tetap berusaha menyelesaikan tulisan ini dan mudah-mudahan dapat membuat Anda tersenyum......cheers!

Minggu, 10 Januari 2010

Diam dalam Sepi


















Sepi dan sendiri aku duduk dalam diam,
Beberapa orang berjalan melewatiku, namun aku tak terlihat,
Beberapa kali aku tersenyum kepada mereka, namun aku tetap tak terlihat,
Apakah karena pakaianku yang lusuh?
Apakah karena tubuhku yang mungil?
Apakah karena gigiku yang sudah tidak lengkap lagi, sehingga senyumku tak ada artinya bagi mereka?
Aku ingin menyapa mereka, namun aku tak terlihat,
Aku ingin menawarkan makanan kepada mereka, namun aku tak terlihat,
Aku ingin menyapa mereka, namun mereka berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti,
Apakah yang harus aku lakukan?
Sepertinya aku hanya dapat menunggu datangnya seseorang yang melihat keberadaanku dan mau menerima senyumku.....

Ta Som. Siem Reap 2009