Kamis, 30 Desember 2010

Kepak Sayap Garuda

Tahun 2010 akan segera berakhir dalam hitungan jam.
Telah banyak kejadian menarik terjadi di tahun ini,
Ada tawa, ada canda, ada perjalanan panjang menemukan jati diri,
Ada airmata saat harus melepas kepergian seorang ekonom wanita terbaik Indonesia ke Washington DC,
Ada keharuan mengetahui masih banyak orang yang peduli pada sesamanya saat daerah Mentawai, Wasior, Yogyakarta tertimpa bencana alam,
Ada kekecewaan melihat tenaga kerja wanita Indonesia dihina dan direndahkan di negara lain tanpa pembelaan yang berarti dari pemerintah,
Ada kekecewaan melihat beberapa rumah ibadah diganggu ketentramannya oleh pihak-pihak yang tidak menghargai keberagaman,
Ada harapan untuk kembali bangkit bagi persepakbolaan Indonesia yang sempat terpuruk,
Ada harapan bahwa bangsa Indonesia masih mempunyai rasa Nasionalisme yang tinggi, karena ternyata selama ini hal tersebut tertutup oleh kekecewaan akibat pertikaian tak berujung antara politikus dan pemimpin negara.

Tahun 2011 akan segera tiba.
Masih ada harapan untuk bisa bangkit dari keterpurukan.
Masih ada harapan untuk bisa bangkit dari rasa rendah diri berkomunikasi dengan negara-negara tetangga di kancah internasional.
Masih ada harapan untuk meningkatkan rasa persaudaraan di antara warga negara Indonesia.
Masih ada harapan untuk saling menghargai keberagaman budaya dan agama.
Masih ada harapan untuk memperbaiki kepengurusan PSSI....*hehehe*
Masih ada harapan bagi Garuda untuk mengepakkan sayapnya dan terbang tinggi.
Burung Garuda merupakan simbol kebesaran dan kedigdayaan, jika bukan kita yang memupuk rasa bangga dan harapan untuk bangkit, siapa lagi yang akan melakukannya?
Selamat Tahun Baru 2011. Bangkitlah Indonesiaku.....

Kamis, 18 November 2010

Harapan itu (Ternyata) Masih Ada.....

Mengamati dan membaca peristiwa yang terjadi belakangan ini di Indonesia, membuat hati menjadi miris, bagaimana tidak, semua segi kehidupan bernegara sedang bermasalah. Mulai dari masalah pengemplangan pajak, korupsi, kasus mafia pengadilan, dan masalah politik yang carut marut tak karuan. Berita yang paling menyayat hati adalah saat seorang Gubernur Sumatra Barat tega melenggang pergi ke Jerman di saat rakyat Mentawai yang seharusnya menjadi prioritas perhatian, sedang menderita terkena musibah tsunami. Hal-hal tersebut membuat diri menjadi skeptis sehingga terlintas pertanyaan di dalam benak: masih adakah hal yang dapat dibanggakan di negara ini?

Walaupun rasa skeptis dan hilang harapan itu begitu besar, namun hati saya yang terdalam tetap berharap masih ada hal yang dapat dibanggakan di negeri ini, meskipun prosentase kemungkinannya mungkin hanya 1% saja. Namun harapan itu terjawab saat saya mendengar siaran radio yang sedang membahas topik mengenai hari pahlawan, penyiar mengatakan bahwa ternyata Indonesia mempunyai pahlawan kemanusiaan masa kini yang telah menerima penghargaan sebagai salah satu CNN Heroes 2009. Pahlawan kemanusiaan itu bernama Kapten Budi Soehardi. Penyiar radio pun mengajak pendengarnya untuk melihat youtube website di http://www.youtube.com/watch?v=8piacipZ5wU.

foto koleksi CNN

penghargaan CNN Heroes 2009 diberikan oleh aktris Holywood Kate Hudson
foto koleksi John Shearer


Melihat tayangan malam penghargaan CNN Heroes 2009 tersebut membuat hati jadi terharu. Ternyata masih ada orang Indonesia yang dapat dibanggakan, apalagi tindakannya untuk mendirikan sebuah panti asuhan bagi anak-anak di perbatasan Indonesia-TimorTimur itu dibiayai dari gajinya sebagai pilot pesawat terbang. Penampungan anak yatim piatu tersebut diberi nama Panti Asuhan Roslin, didirikannya sejak tahun 1999 saat terjadi konflik pelepasan daerah TimorTimur menjadi negara baru yang menimbulkan konsekuensi anak-anak menjadi yatim piatu, kehilangan orang tuanya yang tewas dalam peristiwa tersebut. Rasa haru dan bangga timbul di hati saat melihat ratusan hadirin acara bergengsi itu berdiri dan bertepuk tangan menghargai ketulusan hati Kapten Budi Soehardi. Sungguh peristiwa yang mengharukan, sampai-sampai seorang teman mengaku terus terang bahwa ia menangis terharu melihat video ini padahal ia adalah seorang pria. Menurut saya, hal itu sah-sah saja, bukankah air mata yang mengalir karena terharu dengan kebaikan hati orang lain tidak mengenal gender ataupun usia? Kapten Budi Soehardi, saya bangga atas tindakan Anda dan semoga semakin banyak orang terinspirasi dengan kebaikan hati Anda.

Senin, 25 Oktober 2010

Semangat Generasi Muda Indonesia

Menjelang peringatan hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober, sebuah artikel menarik mengenai hal yang membanggakan bangsa Indonesia tercetak di surat kabar nasional. Artikel tersebut membahas program "Indonesia Mengajar", sebuah kegiatan yang diprakarsai oleh Bapak Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina, Jakarta. Gerakan ini memiliki tujuan untuk mencari generasi muda terbaik yang akan ditempatkan sebagai guru Sekolah Dasar di daerah terpencil selama satu tahun. Ide tersebut tercetus mengingat kondisi masih banyaknya sekolah dasar di daerah terpencil yang dibimbing oleh guru-guru dengan kualitas yang tidak sesuai dengan standar. Selama bertugas, generasi muda terbaik ini akan mendapatkan uang saku Rp. 3.2 juta sampai Rp. 4.8 juta per bulan tergantung dari daerah tugas.

Meskipun persyaratannya cukup ketat, indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal 3, berusia di bawah 25 tahun dan berbagai persyaratan lain, tercatat 1.383 orang mendaftar program ini. Mereka merupakan lulusan terbaik dari berbagai perguruan tinggi. Dan setelah diseleksi ketat, terpilih 160 orang, kemudian melalui proses seleksi lebih lanjut terpilih 51 sarjana berkualitas terbaik yang akan ditempatkan di lima daerah terpencil yakni di Kabupaten Halmahera Selatan (Maluku Utara), Kabupaten Paser (Kalimantan Timur), Kabupaten Bengkalis (Riau), Kabupaten Majene (Sulawesi Barat) dan Kabupaten Tulang Bawang Barat (Lampung).

Meskipun mereka akan ditempatkan di daerah terisolasi yang sarana transportasinya sangat sulit, listrik terbatas dan tidak ada sinyal telepon apalagi internet, para sarjana berkualitas tersebut sangat antusias akan tantangan yang akan dihadapinya. Bahkan salah seorang di antara mereka, dengan kesadaran tinggi, rela meninggalkan kehidupan yang sangat layak di Singapura dengan gaji besar di perusahaan multinasional, demi tujuan mulia untuk memberikan pendidikan yang bermutu dan memberikan motivasi untuk belajar dengan giat kepada anak-anak di daerah terpencil. Sebelum berangkat ke daerah terpencil, para calon pengajar ini diberikan pelatihan di asrama selama tujuh minggu, termasuk cara mengajar, kurikulum pengajaran, ekstrakurikuler, sampai menjaga kesehatan di daerah terpencil. Di dalam asrama, aliran listrik dimatikan setelah pukul 10 malam dan telepon seluler disimpan panitia supaya mereka tidak kaget menghadapi keadaan minim listrik di daerah tujuan pengajaran.

Artikel tersebut seperti angin segar di antara pemberitaan negatif yang selalu dibaca dan dilihat oleh bangsa Indonesia akhir-akhir ini mengenai tawuran antar warga, demonstrasi mahasiswa yang anarkis dan beringas maupun tim sepakbola nasional yang kurang bisa dibanggakan. Bangsa Indonesia ternyata masih punya harapan untuk bangkit dari keterpurukannya. Generasi muda Indonesia, ayo tunjukkan semangatmu demi kemajuan negeri ini!


Sumber tulisan: artikel Pengajar Muda, Mereka yang Dibutuhkan Negeri Ini, Kompas,21 Oktober2010,hal.1 & 15, THY

Rabu, 20 Oktober 2010

Resensi Buku: John Perkins, Confessions of an Economic Hit Man




     Membaca sebuah buku seperti membuka jendela dan seketika kalimat pertama terbaca, saat itu pula kita seakan-akan melompat masuk ke dalam lokasi pembahasan cerita untuk kemudian berjalan mengikuti alur cerita buku tersebut. Hal tersebut dirasakan saat membaca buku Confessions of an Economic Hit Man dengan tahun 1963 sebagai awal pembahasan cerita. Buku ini termasuk buku yang kontrovesional, sebab sang penulis, John Perkins, membuat sebuah gebrakan yang cukup berani untuk mengakui pengalamannya bekerja sebagai seorang pelayan kepentingan korporatokrasi (koalisi pemerintah, bank dan korporasi) Amerika Serikat dan memberikan andil yang cukup besar penyebab terjadinya beberapa peristiwa dramatis dalam sejarah, seperti kejatuhan Shah Iran, kematian presiden Panama Omar Torrijos dan invasi Amerika ke Panama & Irak.


     Korporatokrasi bukanlah sebuah konspirasi, tetapi anggota-anggotanya mendukung nilai dan sasaran bersama. Salah satu fungsi korporatokrasi yang terpenting adalah mengabadikan dan secara terus menerus memperluas dan memperkuat sistem ketergantungan sebuah negara dengan menyajikan model untuk mengkonsumsi, mengkonsumsi, mengkonsumsi. Setiap kesempatan akan dipergunakan untuk menyakinkan  suatu bangsa bahwa membeli berbagai barang adalah salah satu kewajiban sebagai warga negara dan menjarah bumi adalah tindakan yang baik dilakukan atas nama laju ekonomi dan hal itu akan memenuhi kepentingan yang lebih tinggi. Economic Hit Man merupakan sekelompok laki-laki dan perempuan elite yang memanfaatkan organisasi keuangan international untuk menimbulkan kondisi yang menjadikan bangsa-bangsa lain tunduk pada corporatocacy. Kondisi tersebut diskenariokan dalam bentuk pinjaman untuk mengembangkan infrastruktur seperti: pembangkit tenaga listrik, jalan raya, pelabuhan, bandar udara atau kawasan industri. Salah satu syarat pinjaman adalah: perusahaan kontraktor dari negara Amerika Serikat-lah yang mesti membangun semua proyek itu. Meskipun faktanya uang itu dikembalikan kepada korporasi, negara penerima bantuan diharuskan untuk membayar semuanya kembali, pokok pinjaman beserta bunganya. Jika seorang EHM berhasil sepenuhnya, pinjaman itu akan sedemikian besarnya sehingga penerima pinjaman terpaksa mengalami gagal bayar hutang sesudah beberapa tahun dan seperti mafia, para EHM akan menuntut pembayaran penuh.


     Proses awal keterlibatan John Perkins dalam kegiatan korporatokrasi dimulai ada tahun 1971 saat ia menjalani proses perekrutan terselubung oleh United States National Security Agency dan tercantum sebagai penerima gaji dari perusahaan konsultan international untuk kemudian berkelana ke berbagai pelosok dunia (Indonesia, Panama, Ekuador, Kolombia, Saudi Arabia, Iran dan negara strategis lainnya). Lebih spesifik mengenai pekerjaannya, seorang Economic Hit Man akan memprediksi efek menginvestasikan miliaran dolar di suatu negara, dengan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 20 hingga 25 tahun ke depan dan mengevaluasi dampak berbagai proyek. Sebagai contoh, jika keputusan telah dibuat untuk meminjamkan uang USD $1 miliar kepada suatu negara, maka mereka akan membandingkan manfaat investasi uang tersebut jika diinvestasikan ke dalam proyek pembangkit tenaga listrik atau jaringan jalan kereta api nasional atau sistem telekomunikasi. Tugas pertama John Perkins adalah menghitung proyeksi ekonomi investasi sebuah negara berkembang yang berlokasi di wilayah tropis yang kaya minyak dan menurut pejabat pemerintahan Amerika Serikat pada waktu itu negara tersebut perlu diselamatkan dari paham komunisme, Indonesia.


     Jakarta sebagai ibu kota Indonesia pernah ditinggalinya untuk beberapa waktu dan ia terkesan dengan hal-hal indah dan tragis yang terekam dalam pengamatannya. Rumah-rumah besar kolonial Belanda dan bangunan mesjid-mesjid dengan menaranya, sementara itu di pojokan kota terlihat penderita-penderita kusta yang mengulurkan puntungan daging berdarah sebagai ganti tangan. Sungai-sungai jaman Belanda telah berubah fungsi menjadi comberan dengan dikelilingi oleh gubuk-gubuk karton tempat seluruh keluarga tinggal di sepanjang tepi sungai hitam yang penuh sampah. Tugas pertama melakukan prediksi investasi infrastruktur di Indonesia telah dilakukan dengan hasil yang cukup memuaskan sehingga John Perkins pun ditugaskan ke beberapa negara berkembang lainnya.


     Kejadian tragis apakah yang membuat John Perkins berani mengambil keputusan untuk menuliskan buku mengenai kegiatan masa lalunya sebagai EHM? Seberapa jauh keterlibatannya dalam peristiwa terbunuhnya Presiden Panama Omar Torrijos dalam sebuah kecelakaan pesawat? Semua hal itu dapat Anda baca lebih lanjut dalam buku pengakuan dosa yang menarik ini apalagi beberapa bab di awal buku membahas negara kita tercinta, Indonesia.


Judul Buku : Confessions of an Economic Hit Man (edisi Indonesia)
Penulis       : John Perkins
Publikasi     : Penerbit Abdi Tandur


Selasa, 19 Oktober 2010

Danau Tiga Warna Kelimutu, Flores


Pada suatu pagi hari yang cerah, sebuah pesawat terbang komersial tujuan Maumere-Denpasar melintas di atas Danau Tiga Warna Kelimutu di Pulau Flores. Terdengar pemberitahuan dari pengeras suara pesawat bahwa pilot akan memberikan kesempatan kepada para penumpang untuk mengabadikan keindahan danau tersebut. Setelah meminta seluruh penumpang untuk memasang sabuk pengaman, sang pilot dengan sengaja memiringkan badan pesawat ke arah kanan sehingga penumpang yang duduk di sebelah kanan dapat mengabadikannya dengan kamera mereka. Beruntung pada saat itu, sebagai penumpang pesawat, saya dan kawan-kawan duduk di posisi strategis, sehingga dapat memotret foto tampak atas ketiga danau yang terletak di kaki Gunung Kelimutu tersebut. Kami dapat dikatakan beruntung bisa memotret tampak atas, sebab walaupun kami telah berkunjung ke sana, sangat sulit untuk dapat membuat foto area secara keseluruhan karena posisi ketiga danau tidak berdampingan.

Sebelum pergi meninggalkan Pulau Flores, kami sempat menginap di Kampung Moni yang terletak di desa Koanara, Kabupaten Ende. Tujuan utama kami adalah melihat matahari terbit di Danau Tiga Warna dan Kampung Moni merupakan perkampungan paling dekat dengan kaki Gunung Kelimutu sehingga banyak dibangun penginapan sederhana di sana sebagai tempat peristirahatan bagi turis yang memiliki niat mengunjungi Danau Kelimutu di pagi hari. Dibutuhkan waktu 45 menit perjalanan dari Kampung Moni menuju halaman parkir Taman Nasional Gunung Kelimutu dengan kendaraan bermotor dan setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki mendaki tangga selama 30 menit sampai di bibir danau. Perjalanan yang sedikit melelahkan, namun pemandangan yang kemudian terbentang di hadapan kami dapat mengobati rasa lelah itu.

Saoria Wisata Cottage

Menurut sejarahnya, Gunung Kelimutu pernah meletus pada tahun 1886 dengan meninggalkan kawah berbentuk tiga buah danau yang letaknya berdekatan. Area tersebut diresmikan sebagai Taman Nasional sejak tanggal 26 Februari 1992. Masyarakat setempat meyakini bahwa setelah seseorang meninggal dunia, arwahnya akan tinggal di Kelimutu dan menempati salah satu dari ketiga danau tersebut tergantung usia dan perbuatannya sebelum meninggal, yaitu: Danau Muda-Mudi (Tiwu Nuamuri Koofai), Danau Orang Jahat (Tiwu Ata Polo) dan Danau Orang Tua (Tiwu Ata Mbupu). Salah satu misteri yang terjadi di area tersebut adalah warna dari masing-masing danau dapat berubah-ubah dengan sendirinya tanpa dapat diduga oleh penduduk sekitar. Menurut papan informasi yang terdapat di lokasi wisata, kondisi ini disebabkan oleh kandungan mineral yang terdapat di dalam air danau. Saat kami berkunjung ke area tersebut di akhir bulan Maret 2010, Danau Muda-Mudi berwarna hijau muda, Danau Orang Jahat berwarna hijau tua dan Danau Orang Tua berwarna coklat kehitaman.

Danau Muda-Mudi (Tiwu Nuamuri Koofai)


Danau Orang Tua (Tiwu Ata Mbupu)

Danau Tiga Warna Kelimutu dapat ditempuh dari kota Maumere yang berjarak 83 kilometer dengan menggunakan mobil sewaan dengan kisaran biaya sekitar Rp. 600.000 untuk perjalanan Maumere-Kelimutu-Maumere dan biaya penginapan di Kampung Moni sekitar Rp.90.000-150.000 per kamar yang dapat ditempati oleh 4 orang. Apakah Anda penasaran ingin membuktikan fenomena alam perubahan warna dari ketiga danau tersebut? Janganlah ragu untuk mengunjungi kawasan wisata di Kabupaten Ende, Pulau Flores ini. Pengalaman mendaki kaki Gunung Kelimutu dan pemandangan alam Danau Tiga Warna Kelimutu akan selalu dapat membuat para pengunjungnya tersenyum bahagia.

Kami, empat wanita penjelajah Pulau Flores (Sule, Kaka, Tante Christine & phendrani), telah berhasil mencapai Danau Tiga Warna Kelimutu. Bagaimana dengan Anda?

Kamis, 16 September 2010

Jejak Kakiku di Bangkok

Tulisan di bawah ini merupakan detail perjalanan yang pernah saya tulis pada awal tahun 2007 mengenai informasi yang bermanfaat untuk diketahui bagi Anda yang memiliki keinginan melakukan perjalanan ke kota Bangkok dan sekitarnya. Semoga bermanfaat.

Pada sebuah hari yang cerah di bulan Desember 2006, sebuah pesawat berbudget rendah dengan nomor penerbangan AK882 mendarat dengan lancar di Suvarnabhumi Airport. Semua penumpang bersiap-siap untuk berdiri dan menurunkan tas mereka dari kabin pesawat, termasuk saya. Bagaimana saya bisa berada di dalam pesawat itu? Wah, Anda pasti penasaran kan? Hmm, untuk mempersiapkan perjalanan backpacker kali ini, saya membutuhkan waktu selama satu bulan. Backpacker adalah sebutan untuk orang yang melakukan perjalanan ke suatu daerah yang tidak pernah dikunjungi sebelumnya tanpa bantuan tour ataupun kenalannya dan dengan biaya yang murah, tentunya.

Seorang backpacker harus membuat sendiri rencana perjalanannya dan ia harus melakukan survey mendalam terhadap daerah/negara yang akan dikunjunginya. Seperti seorang serdadu yang akan pergi ke medan perang, seorang backpacker harus mengetahui secara detil alat transportasi yang akan digunakan, penginapan murah meriah, letak obyek-obyek wisata yang menarik dan tentu saja sebuah peta daerah tersebut dengan detail akurat.

Proses survey yang saya lakukan tidaklah sesulit yang dibayangkan orang, karena di jaman canggih seperti ini, internet merupakan sumber informasi yang sangat berguna dan membuat semua hal menjadi lebih mudah. Maka saya mulai mencari penerbangan murah meriah dan aman, dan akhirnya ditemukan sebuah perusahaan penerbangan yang memberikan tiket murah ke Bangkok dengan informasi perusahaan penerbangan tersebut tidak memotong biaya dari safety equipment, tapi memotong harga tiket dari biaya makanan. Kemudian setelah memesan kursi pesawat dan kamar hotel yang murah secara online, saya pun mempersiapkan diri untuk menjalani perjalanan penuh tantangan ini dengan berdoa kepada Tuhan. Bukankah manusia bisa membuat rencana, tapi Tuhan yang menentukan?

Tanggal 25 Desember 2006, saya pun tiba dengan selamat di Suvarnabhumi Airport, Bangkok. Puji Tuhan karena kami berhasil mendarat di negara seribu pagoda dan sepertinya ini adalah hadiah Natal yang terindah bagi kami. Setelah selesai menghadapi rangkaian proses administrasi di meja imigrasi, saya dan Prathiwi Widyatmi (rekan backpacker) berjalan menuju pintu keluar bandara. Di dekat pintu keluar bandara, terdapat bilik pembelian tiket Airport Transfer Bus (seperti Damri di Jakarta), dan dengan membayar 150 baht, kami dapat tiba di Siam Centre yang berada di pusat kota Bangkok. Bila dibandingkan dengan menggunakan jasa taksi, biaya tiket Airport Transfer Bus ini lebih murah, karena waktu tempuh antara Suvarnabhumi dan pusat kota adalah 1 jam 15 menit dengan karakteristik lalu lintas yang hampir sama dengan Jakarta, yaitu: macet.

Setibanya di Siam Centre, kami mencari taksi yang bisa mengantarkan kami ke Homduang Boutique Hotel, disanalah kami telah memesan sebuah kamar hotel secara online. Pada saat inilah, mulai terasa perjuangan yang harus dialami oleh seorang petualang. Mayoritas penduduk Bangkok tidak menguasai bahasa Inggris. Namun, untunglah kami bertemu dengan seorang bapak supir taksi yang sangat baik hati. Walaupun ia tidak mengerti bahasa Inggris dan tidak mengetahui keberadaan hotel yang kami sebutkan, namun ia dengan ketulusan hatinya, menepikan taksi-nya di dekat sebuah telepon umum dan meminta nomer telepon hotel tersebut dari saya. Pak supir ini dengan gagah berani keluar dari mobil dan menuju telepon umum untuk menghubungi staff hotel dan menanyakan arah. Setelah ia mengetahui letak hotel tersebut, ia kembali ke dalam mobil dan mengantarkan kami sampai depan lobby Homduang Hotel. Wow, saya sangat terharu melihat ketulusan hati si bapak supir ini, sehingga setelah sampai di depan lobby hotel, saya menjabat tangan pak supir, membayar biaya taksi dan mengganti biaya yang ia keluarkan saat menelepon tadi.

Setelah proses check in selesai, kami beristirahat sejenak. Tujuan berikutnya adalah makan malam dan mengunjungi Suan Lum Night Bazaar. Seperti kebanyakan wanita Indonesia, kami sangat senang berkunjung ke sebuah pasar malam. Hmm, memang sangat menyenangkan menjadi seorang wanita. Setelah puas melihat dan berkeliling pasar malam, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Jam tangan saya telah menunjukkan angka 10. Kami menunggu taksi di pinggir jalan, ketika tiba-tiba muncul sebuah tuk-tuk (kendaraan khas Thailand, seperti bemo di Jakarta), kami pun memiliki ide untuk menghentikannya. Tuk-tuk tersebut melintas di hadapan kami dengan kecepatan tinggi, sehingga kami merasa tidak mungkin dapat menghentikan kendaraan tersebut. Namun, praduga tersebut salah besar, supir tuk-tuk tersebut setelah melihat tanda bahwa kami ingin menghentikannya, ia menginjak rem kendaraannya dengan manuver seorang pembalap (terdengar suara ban yang berderit) dan kemudian ia memundurkan kendaraannya (dengan kecepatan tinggi pula) sampai tiba di hadapan kami. Saya tertawa terbahak-bahak melihat kejadian ini. Sungguh hari yang sangat aneh?! Menghadapi proses negosiasi dengan supir tuk-tuk harus dengan kesabaran tingkat tinggi, karena untuk menjadi penumpang, harus melewati proses tawar-menawar yang cukup alot. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu taksi saja, dengan tarif sesuai meteran.

Day-2,


Pada hari kedua, kami mengunjungi Grand Palace, Wat Arun, Wat Phra Keo, Wat Po. Ke-empat obyek wisata ini terletak berdekatan dengan dermaga Tha Tien, sehingga kami memutuskan untuk membeli tiket boat untuk satu hari seharga 100 baht, karena sepanjang hari ini akan kami habiskan dengan berlayar di sungai Chao Phraya. Setelah puas mengunjungi old town di kota Bangkok ini, kami pergi ke daerah Bang Lampu, tepatnya di jalan Khao San, tempat berkumpulnya para petualang/backpackers.

Setelah makan siang, kami pun berangkat menuju Teak Mansion di daerah Dusit. Vimanmek Throne Hall ini adalah rumah kediaman Raja Rama V yang sangat menakjubkan karena rumah tingkat 4 tersebut terbuat dari kayu dan menyimpan perabotan antik, lukisan dan perhiasan kerajaan, dan saat ini rumah tersebut telah menjadi museum. Setelah puas berkeliling rumah Raja Rama V tersebut, kami memutuskan untuk pulang ke hotel dengan mengunakan perahu sampai di dermaga Taksin Saphon dan diteruskan dengan naik Sky Train sampai ke stasiun Chong Nong Sii dan menggunakan taksi sampai ke depan lobby hotel. Hmm, hari yang cukup melelahkan.

Day-3

Hari ini kami akan mengunjungi kota Ayutthaya, sebuah kota tua yang penuh dengan peninggalan bersejarah abad ke-13. Jarak antara Bangkok-Ayuttahya adalah 85 KM. Terdapat beberapa tur antar kota yang dapat mengantarkan kami ke kota tua tersebut. Namun, sebagai seseorang yang ingin menjadi backpacker sejati, kami memutuskan untuk berangkat sendiri dengan kereta api ke Ayutthaya. Untuk mencapai stasiun kereta api Hua Lumpong, kami harus mengambil MRT (Mass Rapid Transfer) dari Siam Square menuju Hua Lumpong. Setibanya di Hua Lumpong, kami pun memesan 2 buah kursi di kereta api menuju Ayutthaya. Kereta api kami yang mempunyai jadwal keberangkatan jam 10.15 ternyata belum tersedia di peron stasiun, dan kami harus menunggu selama 40 menit sebelum kereta tersebut datang. Kondisi kereta api yang kami tumpangi tidak berbeda jauh dengan kondisi kereta api kelas Eksekutif Parahyangan Jakarta-Bandung. Setibanya di Ayutthaya, kami menyewa sepeda untuk dapat mengelilingi kota tua tersebut. Sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan dapat melihat bangunan-bangunan abad ke 13, walaupun keadaannya telah mengalami kerusakan saat invansi bangsa Burma pada abad ke 18. Setelah lelah bersepeda dan berkeliling kota Ayutthaya, kami kembali memesan tiket pulang ke bangkok.

Day-4

Kegiatan pada hari ini dimulai jam 4 pagi, sebab rencananya kami akan mengunjungi Damnoen Saduak pasar terapung yang berada 2 jam perjalanan mobil dari Bangkok. Kami keluar dari lobby hotel dan mencari taksi pada pukul 5 pagi. Sebuah taksi mau mengantarkan kami ke pasar terapung tersebut dengan tawar-menawar harga. Sebenarnya terdapat pula tour yang dapat mengantarkan kami ke damnoen, namun kami dapat menghemat biaya perjalanan dengan menggunakan taksi tersebut. Taksi tiba di pelataran parkir Damnoen Saduak jam 7 pagi, setelah sampai di sana, kami menyewa perahu untuk menuju pasar terapung. Pasar terapung ini dapat terbentuk karena penduduk sekitar kanal yang berada di daerah Ratchaburry ini memiliki tempat tinggal di pinggir kanal, sehingga satu-satunya cara para penjual sayur-mayur dan makanan untuk mencapai target market mereka adalah dengan menggunakan perahu. Setelah puas makan dan melihat-lihat pasar terapung ini, kami pulang kembali ke bangkok dengan bis antar kota. Di dalam bis, kami tertidur pulas, untuk membayar waktu tidur kami yang kurang di pagi harinya. Setelah tiba kembali di Bangkok, kami mengunjungi Rumah Jim Thompson. Jim Thompson adalah warga Amerika yang jatuh cinta dengan kebudayaan Thailand dan kemudian menetap di Bangkok setelah Perang Dunia II. Beliau mengembangkan industri sutra dan seorang kolektor barang antik. Pada tahun 1967, Jim Thompson menghilang secara misterius dalam perjalanan wisatanya di Malaysia dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya. Setelah puas berkeliling Jim Thompson House, kami menghela napas lega, karena ternyata kami berhasil mengunjungi obyek-obyek wisata yang telah kami rencanakan. Malam harinya kami mengunjungi kembali Suan Lum Night Bazaar untuk mengikuti pertunjukkan boneka khas Thailand.

Day-5

Hari ini kami akan pergi meninggalkan Bangkok. Pesawat dengan nomor FD 3571 meninggalkan landasan pacu Suvarnabhumi Airport pada pukul 7.10 pagi. Saya akan selalu terkesan dengan keramahan dan ketulusan hati penduduk kota Bangkok. Walaupun mereka tidak mengerti bahasa yang kami ucapkan, namun mereka selalu mau membantu kami untuk menemukan jalan ataupun menunjukkan arah.

Senin, 23 Agustus 2010

Karya Seni Tak Lekang oleh Waktu






















Sebuah karya seni tak lekang oleh waktu, itulah yang terbersit dalam benak saya saat menghadiri sebuah pameran tunggal seni patung hasil karya seniman senior kebanggaan Indonesia Edhy Sunarso. Pameran ini menampilkan hasil karya patung dari tahun 1960-an sampai dengan saat ini, dan berlangsung sejak tanggal 14 Agustus - 28 Agustus 2010 bertempat di Galeri Salihara, Pasar Minggu, Jakarta.

Bapak Edhy Sunarso adalah seorang seniman pematung yang ditemukan oleh Bung Karno di sekitar tahun 1960. Hal ini semakin menegaskan posisi Bung Karno sebagai seorang pemimpin bangsa yang sangat peduli dan memberikan apresiasi pada karya seni. Beberapa patung hasil karya Edhy Sunarso merupakan karya seni masterpiece yang mudah dikenali oleh masyarakat terutama penduduk kota Jakarta, sebab hasil karya beliau tersebut diletakkan di beberapa lokasi strategis di jantung kota Jakarta, seperti: Patung Selamat Datang di Bunderan HI, Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, Patung Dirgantara di Pancoran.

Namun sungguh disayangkan bahwa setelah era pemerintahan Bung Karno, para pemimpin bangsa generasi berikutnya tidak menaruh perhatian terhadap karya seni anak bangsa sebab arus kapitalisme dan konsumerisme dianggap lebih penting. Sebagai contoh, di wilayah Pancoran saat ini posisi Patung Dirgantara berada di antara dua jembatan layang dan keindahan konstruksi patung tersebut tenggelam dengan konstruksi gedung-gedung bertingkat yang ada di sekitarnya. Namun hal ini masih bisa disyukuri, sebab paling tidak patung yang terletak di wilayah sibuk Pancoran tersebut masih tetap berdiri pada pondasi konstruksinya, tidak tergusur oleh mesin buldozer. Sebagai penduduk kota Jakarta, saya berharap semoga karya-karya seni peninggalan tahun 1960-an tersebut dapat terus dinikmati oleh anak bangsa dari berbagai golongan dan generasi, sebab sekali lagi, sebuah karya seni tak lekang oleh waktu apabila tetap dibiarkan berdiri pada posisinya dan mendapatkan anggaran pemeliharaan berkala....yup, tentunya!


Dokumentasi ketika salah satu patung hasil karya Edhy Sunarso, Patung Pembebasan Irian Barat diresmikan oleh Bung Karno.


Rancangan awal Patung Dirgantara, posisi tangan kanan patung membawa sebuah pesawat kecil.


Siluet Patung Dirgantara di antara himpitan arus kapitalisme....