Rabu, 03 Maret 2010

Tanpa Ide

Sekali lagi, saya mendapati diri sedang termenung di depan layar komputer, tanpa ide di kepala, tanpa peristiwa menarik yang dapat diceritakan. Sebenarnya saya tidak mempunyai keharusan untuk menulis di dalam blog ini, sebab saya bukan seorang penulis buku apalagi wartawan perang, saya hanyalah seorang manusia biasa. Kegiatan menulis, hmm, mungkin lebih tepat disebut kegiatan mengetik di komputer, saya mulai sejak tahun 2005. Sehingga apabila ada yang berpendapat bahwa saya mampu membuat tulisan sejak masa kanak-kanak, wah pendapat itu sangat salah, salah, salah, sebab di jaman dahulu kala, apabila guru Bahasa Indonesia memberikan tugas menulis puisi, keringat dingin akan segera memenuhi jidat saya yang lebar dan puisi pada akhirnya dapat diselesaikan dengan hiasan coretan di seantero kertas, urek-urek orang Jawa bilang, sungguh menyiksa.

Namun semenjak tahun 2005, keengganan saya dalam hal tulis-menulis ini berubah total, saat dengan tiba-tiba saya sadar mempunyai beberapa cerita menarik yang pernah dialami sendiri ataupun memperoleh inspirasi menarik dari aktivitas membaca koran di pagi hari sambil ditemani segelas kopi cappuccino, yup, style bapak-bapak begitu deh. Inspirasi dan pengalaman menarik tersebut seringkali ingin saya ceritakan kepada orang-orang yang ada disekitar, namun kadangkala tanggapan mereka tidak sesuai dengan harapan saya, seperti: ketika saya sangat bersemangat bercerita mengenai sebuah peristiwa lucu, ternyata orang yang sedang saya ajak bicara tiba-tiba menangis. Setelah saya amati lebih seksama, ternyata orang tersebut sedang mengiris bawang bombay dan tidak kuasa menahan airmata mengalir turun ke pipinya...hmm memang sih, saat itu dapur merupakan latar lokasi saya bercerita. Di lain waktu, saat saya sedang bercerita mengenai sebuah peristiwa sedih, teman yang sedang mendengarkan cerita tersebut tiba-tiba berteriak senang, sebab ia melihat aktor film pujaannya berjalan masuk ke dalam area food court tak jauh dari meja kami dan seketika itu ia tidak mempedulikan saya lagi, apalagi memperhatikan inti cerita saya. Huhuhuhu, sedih! Nah, untuk menghindari kesedihan akibat tidak dihiraukan dan menghadapi tanggapan para pendengar yang tidak sesuai dengan harapan saya, maka terbersitlah keinginan untuk membuat kumpulan tulisan cerita menarik tersebut ke dalam sebuah blog.

Pertama kali, blog yang saya buat berjudul Funky, dan lokasi blog tersebut masih bersifat lokal, alias hanya teman-teman terdekat saja yang dapat membacanya. Dan semenjak tahun 2008, saya terinspirasi oleh mantan pacar, hmm, sebenarnya agak berat juga mengakui hal ini, namun baiklah saya harus mengakui sumber inspirasi tersebut. Yup, saya terinspirasi untuk membuat blog dalam format global, alias semua orang dapat klik membuka dan membaca cerita saya. Sehingga dalam hal memilih judul blog ini, saya bersikap hati-hati, sebab judul harus singkat, padat makna dan menarik perhatian orang. Rasa frustasi sempat menghampiri sebab tidak juga menemukan nama yang cocok. Namun, di saat saya sedang melihat tumpukan VCD milik keponakan tercinta, kedua mata terbentur pada judul film animasi anak-anak yaitu: Finding Nemo. Film ini dapat dikatakan sebagai sebuah film yang menarik karena memiliki pesan moral yang baik, menyentuh hati dan gambar-gambarnya pun indah, sehingga saya memutuskan untuk menggunakan kata Finding, sepotong kata dari judul film tersebut dan digabungkan dengan kata Story sehingga terbentuklah nama blog yang saya pergunakan sampai saat ini: FindingStory.

Dengan blog ini, saya mengumpulkan dan menulis cerita, mulai dari cerita yang sangat konyol sampai cerita serius, mulai dari peristiwa yang terjadi sungguhan sampai peristiwa yang saya karang sendiri, namanya juga blog ini milik saya, maka pemiliknya punya hak dan kebebasan untuk menulis cerita mengenai apapun, bukan begitu bukan? Namun, walaupun begitu, saya selalu berharap pembaca blog ini dapat terhibur minimal sebuah senyum simpul tercetak di wajah. Dan salah satu harapan, mudah-mudahan saya selalu dapat menemukan cerita yang menarik untuk dapat dibagikan kepada Anda. Dengan kecanggihan teknologi internet, blog ini dapat diakses di manapun Anda berada, di dapur saat sedang memotong bawang bombay? di cafe sambil menyeruput secangkir kopi panas? di ruang tunggu dokter sambil tangan Anda memegangi pipi yang bengkak akibat sakit gigi? Harapan saya, semoga FindingStory dapat menghibur hati Anda. Bagaimana menurut Anda?...............halo? hmm...tidak ada jawaban. Seringkali muncul pertanyaan dalam hati, kira-kira blog ini ada yang baca atau tidak sih? Huhuhuhu, sedih! Anyways, walaupun tanpa ide, saya tetap berusaha menyelesaikan tulisan ini dan mudah-mudahan dapat membuat Anda tersenyum......cheers!

Minggu, 10 Januari 2010

Diam dalam Sepi


















Sepi dan sendiri aku duduk dalam diam,
Beberapa orang berjalan melewatiku, namun aku tak terlihat,
Beberapa kali aku tersenyum kepada mereka, namun aku tetap tak terlihat,
Apakah karena pakaianku yang lusuh?
Apakah karena tubuhku yang mungil?
Apakah karena gigiku yang sudah tidak lengkap lagi, sehingga senyumku tak ada artinya bagi mereka?
Aku ingin menyapa mereka, namun aku tak terlihat,
Aku ingin menawarkan makanan kepada mereka, namun aku tak terlihat,
Aku ingin menyapa mereka, namun mereka berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti,
Apakah yang harus aku lakukan?
Sepertinya aku hanya dapat menunggu datangnya seseorang yang melihat keberadaanku dan mau menerima senyumku.....

Ta Som. Siem Reap 2009

Minggu, 29 November 2009

Artificial Friend, No More!

Di awal bulan Desember 2009, penduduk Jakarta dikejutkan dengan berita meninggalnya 3 orang berusia muda akibat jatuh dari ketinggian, dan peristiwa tersebut terjadi hampir bersamaan di 3 pusat perbelanjaan mewah yang berbeda. Sebagai tambahan informasi yang lebih mengejutkan, mereka diketahui dengan sengaja menjatuhkan diri alias bunuh diri. Sebuah tindakan yang tidak pernah dilakukan secara spontan sebab berdasarkan penelitian di berbagai negara, tidak ada tindakan bunuh diri yang langsung dilaksanakan pada pikiran pertama, artinya, seseorang akan menimbang-nimbang terlebih dahulu sebelum benar-benar melaksanakan niatnya (Kompas, 13/12/2009, Hal.17).

Tindakan nekad mengakhiri hidup sendiri ini diduga sebagai akibat rasa putus asa menghadapi tekanan hidup yang berat ataupun menghadapi penyakit kronis yang tak tersembuhkan ataupun akibat putus cinta. Apakah mereka yang melakukan hal nekad tersebut tidak memiliki teman di kehidupan sehari-hari yang dapat dijadikan sebagai tempat curahan hati? Sepertinya jawabannya adalah belum tentu, sebab mungkin saja para korban ini memiliki banyak teman namun hanya dapat dianggap sebagai artificial friend, alias orang-orang yang diketahui berteman hanya di permukaan atau basa-basi saja. Teman yang ada di saat mereka sedang berbahagia namun melarikan diri di saat mereka sedang sedih atau susah hati ataupun mereka dikelilingi oleh teman-teman yang tidak tulus mencintai sehingga di saat mereka mengalami depresi/frustasi/putus asa, mereka sulit menemukan orang untuk berbagi.

Menurut data riset kesehatan dasar tahun 2007 yang diadakan oleh Departemen Kesehatan RI, penderita yang mengalami depresi di wilayah Jakarta adalah 14,6 % populasi penduduk Indonesia, sebuah angka yang mengkhawatirkan, karena siapa tahu sebenarnya salah satu anggota keluarga kita ataupun salah satu teman kita termasuk di dalam kelompok orang yang sedang mengalami rasa depresi dan frustasi. Tingginya angka penderita depresi di Jakarta diakibatkan oleh besarnya tekanan hidup di kota metropolitan ini dan suasana individual yang semakin kental. Apakah yang dapat kita lakukan untuk menekan angka penderita depresi? Langkah terbaik yang dapat kita lakukan adalah: janganlah menutup mata/menutup telinga/menutup mulut apalagi menutup wajah kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, karena siapa tahu di sekitar kita terdapat penderita depresi yang sedang membutuhkan motivasi dan semangat untuk melanjutkan hidup. Selain itu kita pun sebaiknya memotivasi diri untuk mengembangkan sikap tulus dalam berteman dan memperhatikan orang lain, sehingga pada akhirnya akan diperoleh hasil: artificial friend, no more!!!

Sumber Tulisan: Saat Hidup Tidak Lagi Berarti, Lusiana & Yulia, Kompas 13/12/2009.
Photograph is taken by Alice Mulia

Sabtu, 24 Oktober 2009

Naik Roller Coaster?

Apakah Anda pernah naik wahana roller coaster? Jika jawaban pertanyaan itu adalah pernah, pastinya Anda mengetahui bahwa roller coaster merupakan wahana permainan berupa kereta yang dipacu dengan kecepatan tinggi pada jalur rel khusus yang ditopang oleh rangka baja tersusun sedemikian rupa di atas permukaan tanah. Pada saat duduk di dalam kereta ini, pengunjung akan mengalami percepatan (perubahan kecepatan terhadap waktu) ketika bergerak turun dan perlambatan (kecepatan berkurang terhadap waktu) ketika bergerak naik. Perubahan kecepatan inilah yang menyebabkan permainan roller coaster disukai oleh pengunjung karena ketika berada di dalam kereta tersebut, pengunjung akan mengalami rasa kuatir, gembira dan takut pada saat bersamaan. Walaupun sebenarnya perasaan campur aduk itupun dapat dirasakan oleh manusia saat menjalani wahana yang lebih serius yaitu roller coaster kehidupan.

Dapat dikatakan sebagai roller coaster kehidupan karena pada saat menjalani kehidupannya, seringkali manusia mengalami peristiwa yang tidak dapat dimengerti olehnya dan perubahan di antara peristiwa yang satu dengan lainnya terjadi begitu cepat. Keadaan ini mirip dengan jalannya kereta di jalur roller coaster dimana pengunjung yang telah duduk di dalamnya tidak dapat menebak arah pergerakan kereta. Sebuah ilustrasi: di saat seorang manusia merayakan kegembiraannya mendapatkan hadiah undian sebuah mobil mewah, ia harus menerima kenyataaan beberapa jam kemudian bahwa salah seorang paman kesayangannya meninggal dunia akibat terkena serangan jantung saat memimpin rapat di kantornya. Dua kejadian ekstrem ini terjadi di saat yang hampir bersamaan, dan terjadi tiba-tiba tak terduga, sehingga manusia tersebut bingung mengenai reaksi yang harus diambilnya.

Peristiwa yang akan terjadi di dalam kehidupan manusia tidak dapat diprediksi ataupun dikendalikan, hal ini dapat membuat kita sadar bahwa kita hanyalah manusia biasa dengan keterbatasan dan kekurangan. Sehingga dalam menghadapi perubahan peristiwa yang cepat itu, hal yang dapat dilakukan hanyalah mengatur reaksi kita, kemudian mendekatkan diri pada Tuhan, sehingga di saat mengalami kegembiraan, kita dapat bersyukur dan jauh dari kesombongan, kemudain sebaliknya bila mengalami kepahitan akibat peristiwa sedih di kehidupan ini, hanya Tuhan yang dapat memberikan kekuatan kepada kita untuk dapat bangkit kembali.

So, Ladies and Gentlemen, please fasten your seat belt and enjoy the ride.....

Rabu, 09 September 2009

Tanpa Judul

Tidak mempunyai ide untuk menulis adalah sebuah mimpi buruk bagi seorang penulis yang sedang dikejar tenggat waktu penerbitan. Mimpi buruk itu dapat menyebabkan rasa frustasi yang membuat penampilan sang penulis menjadi amburadul alias acak-acakan; rambut gimbal tidak disisir, malas melihat matahari alias keluar rumah, sobekan dan gulungan kertas berhamburan di sekeliling meja komputer dan yang paling parah: aktifitas mandi berada di urutan ke100 yang akan dilakukannya. Wah, untung saja saya bukan 100% penulis, sebab saat ini saya hanyalah seseorang yang nekad menulis pengalamannya.

Ide & imajinasi untuk menulis sedang tidak ada di dalam pikiran, namun saya akan menceritakan kejadian saat terjadi gempa di hari Rabu, 2 September yang lalu. Saat itu saya sedang berada di lantai 10 sebuah gedung di daerah Kuningan, Jakarta, menghadiri rapat bulanan divisi. Mata saya sedang berada di level 5 watt ketika saya melihat pigura foto wakil presiden RI Jusuf Kalla yang terpasang di dinding bergerak ke kanan-ke kiri. Wah, saya pasti sudah mengantuk berat nih...gawat.....batin saya. Namun untung saja, ternyata saya tidak berhalusinasi melihat pigura tersebut bergerak, sebab tidak hanya pigura foto itu saja yang bergerak, tirai jendela pun turut bergerak begitu pula dengan saya yang sedang duduk dengan manis di kursi. Gempa bumi...salah satu rekan saya berkata dengan suara keras. Peserta rapat berjumlah 10 orang dan kami saling berpandang-pandangan, bila ada satu orang saja yang lari keluar ruangan, pasti kami semua akan bergegas mengikuti jejaknya. Namun atasan saya pun menenangkan situasi dengan berkata: tenang, tidak perlu panik, kita bisa bersembunyi di bawah meja rapat. Meja rapat yang terdapat di dalam ruangan terbuat dari kayu jati yang kokoh, namun tetap saja goncangan gempa membuat hati kami ciut. Setelah saling berpandangan selama 1 menit, gempa berhenti dan meeting pun dilanjutkan kembali.

Ketika kami sedang berusaha memusatkan pikiran kembali ke topik meeting, goncangan gempa kembali terjadi walaupun kali ini intensitasnya telah berkurang seperti yang biasanya terjadi pada gempa susulan. Acara meeting rencananya akan dilanjutkan kembali saat suara ketukan pintu terdengar, salah satu rekan kami dari General Affair meminta kami untuk meninggalkan ruang meeting, kami harus mengikuti evakuasi turun dengan tangga. Ketika saya keluar ruangan, saya pun menyadari bahwa seluruh ruangan kantor sudah sunyi senyap, where's everybody?

Ketika kami sampai dengan selamat di lantai dasar, kami menemukan kerumunan orang yang telah mendahului kami turun. Pemimpin rapat mendekati atasan saya dan bertanya kira-kira berapa lama proses evakuasi ini akan berlangsung, dan atasan saya menjawab: kira-kira satu jam, dan pemimpin rapat berkata: baiklah, setelah itu kita kembali ke atas untuk melanjutkan meeting. Saya yang mendengar perkataannya hanya bisa berharap agar tidak terjadi lagi gempa susulan.

Ternyata gempa berkekuatan 7,3 SR berpusat di 142 kilometer barat daya Tasikmalaya, informasi ini saya peroleh dari rekan yang mendapatkan informasi dari internet. Wah, sungguh cepat informasi dapat kita peroleh di jaman milenium ini. Kami masih dapat dikatakan beruntung bila dibandingkan dengan mereka yang tinggal dekat dengan pusat gempa, dimana banyak sekali orang yang kehilangan sanak saudara, rumah bahkan tertimpa longsoran tebing yang runtuh. Wilayah Indonesia memang terletak di zona gempa baik itu gempa tektonik maupun vulkanik, sehingga keadaan ini tidak dapat dihindari oleh kita....kata saya dalam hati saat naik kembali ke lantai 10 untuk melanjutkan meeting.



Turut berduka cita bagi saudara-saudara kita yang kehilangan harta benda & orang yang dicintai dalam peristiwa gempa bumi di Tasikmalaya.

Jumat, 24 Juli 2009

25 Detik

Kehidupan manusia di awal abad 21 ini telah dipermudah dengan ditemukannya produk-produk yang memiliki keunggulan dalam kecepatan pembuatannya. Contohnya bila kita ingin makan mie, kita dapat membeli sebungkus mie instan rasa kari, merebusnya di dalam air mendidih dan dalam 3 menit kemudian semangkuk mie dengan aroma kari telah terhidang di depan mata. Dalam hal ini masih ada usaha kita untuk merebus dan menunggu proses mie instan matang, coba bandingkan dengan usaha yang diperlukan untuk mendapatkan secangkir kopi panas dari mesin kopi. Kita hanya membutuhkan jari telunjuk untuk menekan tombol pilihan kopi yang tersedia di dalam mesin kopi tersebut, dan hanya dalam waktu 25 detik, cangkir plastik telah terisi penuh dengan kopi panas pilihan kita. Sungguh sangat praktis, sungguh sangat instan, tidak perlu merebus air, tidak perlu menunggu terlalu lama.

Proses instan tersebut menyebabkan manusia terlena dan menganggap semua hal dapat dilakukan secara praktis. Hal ini pun terjadi di dalam dunia pendidikan kita, sejumlah mahasiswa Institut Teknologi Bandung terlibat dalam kasus perjokian saat seleksi masuk perguruan tinggi negeri di Makasar. Sebanyak 14 mahasiswa yang terlibat kasus perjokian ini tergiur dengan iming-iming imbalan Rp. 30 juta per joki jika berhasil menggolkan pemakai jasa lolos SNMPTN (Kompas 23/7/09). Perjokian ini dapat terjadi sebab banyak calon mahasiswa yang ingin lolos SNMPTN namun malas menjalani proses belajar yang panjang dan mereka memiliki kelebihan finansial sehingga mampu membayar joki dengan harga yang mahal. Sebaliknya banyak mahasiswa cerdas yang kurang beruntung dalam hal finansial dan mereka tergiur untuk mendapatkan imbalan besar sehingga nekad menjadi joki. Namun tindakan mereka harus dibayar dengan mahal sebab 11 dari 14 mahasiwa tersebut diancam drop out dari ITB dan nama mereka tercantum di dalam daftar hitam sehingga tidak diberi kesempatan lagi untuk kuliah di universitas yang lain. Sebuah tindakan instan yang membahayakan masa depan anak bangsa.

Selain itu di jaman instan ini, manusia pun terlena pada kemudahan-kemudahan yang diperolehnya dari teknologi, sehingga pada saat terjadi masalah berat di dalam hidupnya, manusia menjadi depresi, frustrasi, tidak nyaman dengan kondisi tersebut, terutama bila masalah tersebut tidak dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat. Ketika manusia berpaling kepada Tuhan, mereka pun mengharapkan agar Tuhan segera melenyapkan masalah tersebut kalau bisa dalam hitungan 25 detik seperti waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan kopi panas dari mesin kopi, dan bila jawaban dari Tuhan tidak kunjung datang, manusia semakin terpuruk dalam kekecewaan. Padahal kadangkala rencana Tuhan tidaklah sama dengan rencana manusia dan memberikan proses panjang untuk mengubah karakter manusia menjadi lebih baik. Harus diakui teknologi instan sangat membantu kehidupan manusia, namun ada baiknya apabila kita selalu ingat bahwa tidak semua hal dapat diperoleh dengan cara instan.

Sabtu, 20 Juni 2009

Ketika

Ketika matahari bersinar terik, sang manusia bersungut-sungut kepanasan

Ketika hujan turun dengan derasnya, sang manusia bersungut-sungut karena seluruh pakaian yang dikenakannya basah

Ketika seorang sahabat menceritakan masalahnya, telinga sang manusia hanya terbuka setengah

Ketika sang manusia sedang mengalami permasalahan hidup yang berat, ia memaksa sahabat-sahabatnya untuk duduk mendengarkan ceritanya berjam-jam lamanya

Ketika seorang rekan kerja berhasil mendapatkan sebuah tender besar, sang manusia menanggapi berita baik tersebut dengan cibiran

Ketika sang manusia dipuji oleh atasannya atas prestasinya, ia menyebarkan berita tersebut ke seluruh penjuru dunia

Ketika seorang office boy di kantornya menginjak kakinya dengan tidak sengaja, sang manusia menunjukkan wajah bengis dan taringnya

Ketika mobil sang manusia menggores sebuah sepeda motor yang diparkir di pinggir jalan, ia menginjak pedal gas semakin dalam dan melarikan diri

Ketika sang manusia menyadari hidupnya hampa, tidak ada kedamaian di dalam hatinya, ia pun mencari Tuhan kemudian berlutut di hadapanNya, memohon ampun atas dosa-dosanya dan bertobat, sebab manusia tercipta tidak sempurna dan membutuhkan pertolongan Tuhan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.